Selasa, 21 April 2026

Berita Jember

Warga Terdampak Banjir Bandang di Sukorambi Jember Menginap di Mes Perkebunan

Warga di sekitar pabrik Kalijompo di Sukorambi Jember yang terdampak banjir, untuk sementara menginap di mess perkebunan.

Penulis: Sri Wahyunik | Editor: Eben Haezer Panca
surabaya.tribunnews.com/sri wahyunik
Sejumlah perempuan yang terdampak banjir bandang di Sukorambi, Jember, berkumpul di tenda pengungsian yang disediakan BPBD Jawa Timur. 

SURYA.co.id | JEMBER - Warga di sekitar Pabrik Kalijompo Dusun Gendir, Desa Klungkung ,Kecamatan Sukorambi, kabupaten Jember, malam ini (2/2/2020) diinapkan di perumahan karyawan Perkebunan Kalijompo.

Perumahan itu berada di selatan Lapangan Kalijompo yang menjadi posko penanganan bencana banjir bandang Jember.

Ada 64 KK yang mengungsi di tempat tersebut. Mereka sebelumnya tinggal di rumah mereka yang ada di utara pabrik, sekitar pabrik, dan sekitar lapangan itu. Permukiman warga utara pabrik dengan Pabrik Kalijompo itu dipisahkan Sungai Kalijompo.

Sebelumnya ada jembatan bambu sepanjang 13 meter yang menjadi penghubung. Kini jembatan itu putus setelah diterjang banjir bandang pada Sabtu (1/2/2020).

Sementara itu, Minggu (2/2/2020) petang, kawasan Kalijompo kembali dilanda hujan.

"Sekarang hujan lagi. Tapi debit air sungai normal. Untuk warga yang tinggal di sekitar pabrik, sementara kami ungsikan di mess karyawan kebun di dekat lapangan," ujar Pimpinan Kebun Kalijompo, Agus Dwi Martono kepada Surya, Minggu (2/2/2020).

Surya menghubungi Agus sekitar pukul 17.30 Wib untuk mengetahui situasi per sore ini di wilayah atas Kabupaten Jember itu.

Kawasan yang berbatasan dengan hutan Perhutani dan Pegunungan Argopuro itu adalah permukiman paling atas di kawasan itu.

Banjir bandang yang terjadi di DAS Kalijompo, Sabtu (1/2/2020) kemarin, mengenai kawasan sekitar pabrik itu terlebih dahulu.

Beberapa rumah warga setempat terdampak banjir, seperti dapur tergenang air.

"Kami akan buatkan jembatan bambu untuk sementara. Kami akan ajukan ke pimpinan untuk pembangunan jembatan permanen," lanjut Agus.

Sebab ketika jembatan penghubung itu terbuat dari bambu, hampir setiap tahun, pihak kebun setempat memperbaiki jembatan itu.

Selama jembatan penghubung belum ada, warga tetap berada di pengungsian sampai situasi dirasa aman.

Kholifah, warga yang rumahnya di utara pabrik masih takut untuk kembali ke rumahnya.

"Masih takut. Apalagi belum ada jembatan. Kami tidak mungkin melewati sungai itu," ujarnya.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved