Rabu, 22 April 2026

Citizen Reporter

SCOLAH Unair Mengajar, Tujuh Tahun Berbagi di Wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal)

SCOLAH Unair Mengajar yang merupakan organisasi mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) dalam bidang pendidikan

Penulis: Pipit Maulidiya | Editor: Adrianus Adhi
Citizen Reporter/Intang Arifia
SCOLAH Unair Mengajar, Tujuh Tahun Berbagi di Wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) 

SURYA.co.id - Wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) merupakan tujuan dari banyak kegiatan sosial dan pengabdian masyarakat.

Itu berangkat dari kenyataan, wilayah itu memiliki akses dan keterjangkauan yang rendah terhadap bantuan pemerintah dalam hal pendidikan, sarana, kesehatan, ekonomi, hingga bahkan sanitasi.

Itu sebabnya, SCOLAH Unair Mengajar yang merupakan organisasi mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) dalam bidang pendidikan menginisiasi program pengabdian masyarakat yang bertajuk Pelangi.

Program itu ditujukan bagi tim pengajar untuk mengabdi dan melakukan pengajaran di sekolah 3T selama satu bulan.

Selama tujuh tahun Pelangi telah menapakkan jejaknya di dua wilayah 3T, yakni di daerah Blitar selama empat tahun dan di daerah Pantai Brumbun, Tulungagung tiga tahun terakhir.

Awal 2020, Pelangi VII kembali hadir untuk mengabdi di SDN IV Ngadirejo, Pantai Brumbun, Desa Ngrejo, Kecamatan Tanggung Gunung, Tulungagung, mulai Sabtu (4/1/2020) hingga Jumat (24/1/2020).

Enam pengajar dikerahkan untuk mengisi liburan semester ganjil mereka dengan mengajar dan menginspirasi para siswa SDN IV Ngadirejo untuk meraih pendidikan yang lebih tinggi di tengah keterbatasan infrastruktur dan pendidikan.

Sebelum Pelangi hadir di pesisir Brumbun, motivasi belajar siswa di sana rendah.

“Maka dari itu ketika pertama kami datang sampai tahun ketiga di Brumbun, baik warga, guru, maupun adik-adik selalu memberi sambutan baik,” ungkap Arka selaku selaku penanggung jawab kegiatan.

Mengambil tema utama Moralitas Bekal Masa Depan, tim Pelangi secara sistematis telah mempersiapkan agenda pembelajaran berupa silabus selama berbulan-bulan.

Setiap hari pengajar Pelangi mendapat jatah waktu dua jam untuk memberikan materi pelajaran baik berkaitan dengan ilmu maupun moral yang mampu menghadirkan perspektif dan pemahaman baru bagi siswa.

“Tidak hanya di dalam kelas, kami juga berusaha membangun kedekatan dengan adik-adik di luar kelas.

Sambil bermain di pantai, kami bisa bercerita, saling belajar bahasa, dan memotivasi para siswa,” kata Maulani, salah satu pengajar.

Seperti kegiatan mahasiswa lain, tantangan utama selama tujuh tahun pelaksanaan Pelangi adalah persiapan kegiatan yang berada di tengah-tengah perkuliahan serta kebutuhan finansial untuk menyokong kegiatan.

“Alhamdulillah dari universitas turut mendukung dan memberikan bantuan dana bagi Pelangi,” ungkap Arka di sela-sela rapat evaluasi, Selasa (28/1/2020).

Sumber: Surya Cetak
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved