Berita Pasuruan
Kisah Pria Lamongan Adu Nasib Jual Terompet Tahun Baru di Kota Pasuruan
Setiap tahunnya, menjelang akhir tahun, pria Lamongan ini selalu mengadu nasib di Kota Pasuruan untuk berjualan terompet.
Penulis: Galih Lintartika | Editor: Titis Jati Permata
SURYA.co.id | PASURUAN - Usman Hadi terlihat sangat lesu. Ia adalah penjual terompet musiman di Alun-alun Kota Pasuruan.
Setiap tahunnya, menjelang akhir tahun, ia selalu mengadu nasib di Kota Pasuruan untuk berjualan terompet.
Pria 38 tahun ini berasal dari Lamongan, Jawa Timur.
Usman, sapaan akrabnya, sudah bertahun-tahun berjualan terompet di Kota Pasuruan.
Namun, ia mengakui, tahun ini omzetnya menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
"Tidak tahu, tapi memang tahun ini sepi tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Omzetnya tidak seberapa bagus," kata Usman.
Menurut dia, penyebabnya bervariasi.
Namun, ia menduga ada terpengaruh dengan mainan lainnya yang lebih modern sehingga permainan tradisional, terompet ini sudah banyak yang ditinggalkan.
"Kadang sehari bisa dapat Rp 15.000 saking sepinya. Dulu tidak pernah, minimal tujuh sampai delapan terompet, itu sekitar Rp 150.000. Sekarang memang sangat sepi," jelasnya.
Sekadar diketahui, harga jual terompetnya sekitar Rp 10.000-Rp 50.000.
Selama 10 hari, biasanya ia bisa membawa pulang uang Rp 700 ribu-Rp 1 juta itu bersih ke Lamongan.
"Kalau ini kemungkinan besar tidak sampai segitu. Hanya bisa pasrah, dan berdoa semoga ada keajaiban," pungkas dia.