Kamis, 23 April 2026

Berita Sidoarjo

Produsen Tahu di Tropodo Sidoarjo Kini Gunakan Bahan Bakar Kayu

Dulu memang mereka biasa memakai sampah plastik untuk bahan bakar. Kemudian dicampur kayu, karena dirasa lebih murah ketimbang sepenuhnya pakai ka

Penulis: M Taufik | Editor: Eben Haezer Panca
surabaya.tribunnews.com/m taufik
Pekerja di Pabrik Tahu menyiapkan kayu-kayu untuk bahan bakar tungku 

SURYA.co.id | SIDOARJO - Alex terlihat sibuk mengangkati kayu ke dekat tungku. Menggunakan sebuah bak besar, sidikit demi sedikit tumpukan kayu bakar itu berpindah tempat.

Sesekali, dia memasukkan potongan kayu berukuran sekitar 50 centimeter sampai 70 centimeter ke tungku yang apinya terus menganga.

"Harus bertahap memasukkannya. Supaya apinya stabil," ujar pengelola home industri pembuat tahu di Desa Tropodo, Kecamatan Krian, Sidoarjo, Senin (23/12/2019).

Tumpukan kayu bakar itu berada tak jauh dari tungku. Terlihat dua jenis kayu di sana. Potongan kecil-kecil seperti kayu bekas olahan pabrik, dan sebelahnya ada tumpukan kayu gelondongan berdiameter sekira 10 centi sampai 20 centimeter.

Bersebelahan dengan dua tunggu besar itu, beberapa pekerja juga sibuk menjalankan aktivitasnya. Ada yang proses penyaringan, ada pula bagian menata tahu yang sudah jadi ke dalam kotak-kotak besar untuk dibawa keluar.

Setiap beberapa puluh menit, nampak kendaraan roda tiga dengan bak belakang datang. Tahu diangkat ke atas bak itu, kemudian diangkut keluar dari lokasi produksi.

Di sela kesibukannya di bagian tungku, Alex juga sempat membantu rekan-rekannya mengangkat tahu-tahu yang sudah jadi. "Saling bantu aja, agar ringan," ujarnya.

Suasana tak jauh beda juga terlihat di tempat produksi tahu lainnya. Berjarak hanya beberapa puluh meter dari tempat tersebut, juga ada produsen tahu lagi.

Desa ini memang terkenal sebagai sentra produksi tahu. Totalnya ada sekitar 50 produsen tahu di daerah yang sempat menjadi perbincangan banyak kalangan lantaran produksi tahu di sana banyak menggunakan sampah plastik sebagai bahan bakar.

"Sudah sekitar tiga bulan, kami murni pakai bahan bakar kayu," kata Muhajir, pemilih tempat produksi tahu di Desa Tropodo tersebut.

Diakuinya, dulu memang biasa memakai sampah plastik untuk bahan bakar. Kemudian dicampur kayu, karena dirasa lebih murah ketimbang sepenuhnya pakai kayu.

Tapi setelah ramai-ramai penggunaan plastik disoal, dia memutuskan untuk berhenti pakai sampah plastik.

Menurut dia, setelah dihitung-hitung selisih biaya pakai bahan bakar kayu dibanding menggunakan limbah plastik tidak terlalu besar.

"Seminggu paling selisihnya sekitar Rp 500 ribu. Bahkan tidak sampai segitu," ungkap dia.

Dijelaskan, dalam satu minggu biasanya butuh sekitar Rp 3,5 juta untuk bahan bakar sampah plastik. Sementara pakai kayu Rp 4 juta masih sisa.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved