Citizen Reporter

Guru Bukan Hanya Profesi Tapi Juga Pendidik yang Mampu Mengidentifikasi Bakat Anak

Guru Bukan Hanya Profesi Tapi Juga Pendidik yang Mampu Mengidentifikasi Bakat Anak.

Guru Bukan Hanya Profesi Tapi Juga Pendidik yang Mampu Mengidentifikasi Bakat Anak
Citizen Reporter/A Kanzul Fikri
Guru Bukan Hanya Profesi Tapi Juga Pendidik yang Mampu Mengidentifikasi Bakat Anak 

SURYA.co.id - Profesi guru sebagai seorang pendidik haruslah mampu mengidentifikasi pembelajaran yang efektif dan menyenangkan guna memaksimalkan bakat setiap anak yang beragam.

Salah satu yang masyhur di kalangan pendidik adalah dengan menerapkan pemahaman tentang kecerdasan majemuk (multiple intelligence) yang digagas Howard Gardner pada 1983 dalam bukunya Frames of Mind.

Menurut Wulandari, pakar teaching methodology dan neurolinguistics, kecerdasan majemuk sudah selayaknya diterapkan di mayoritas sekolah. Itu mampu mengawal bakat dan potensi anak sebaik-baiknya.

“Dengan teori kecerdasan majemuk, sejatinya tidak ada lagi stigma anak bodoh atau siswa yang rendah IQ-nya karena setiap anak dianggap istimewa sesuai dengan bakat dan kecerdasan masing-masing,” ujarnya pada Workshop Pembelajaran Efektif di hadapan seluruh guru ITMA Al-Aqobah, Jombang (11/11/2019).

Kegiatan itu disambut antusias oleh puluhan guru ITMA Al-Aqobah Jombang karena berkaitan dengan visi sekolah yang humanis.

Diskusi dan tanya jawab pun mengalir secara bergantian dengan narasumber dan sesekali diiringi canda tawa dan game ringan untuk memeriahkan suasana. Semua tampak bersemangat.

“Guru bukan hanya paham teori pembelajaran, melainkan juga harus mampu memahami psikologi anak,” lanjut sosok yang lulus S3 dari Griffith University, Brisbane itu.

Ada sembilan kecerdasan menurut Howard Gardner, yaitu kecerdasan linguistik, logis-matematis, visual-spasial, kinestetis, interpersonal, intrapersonal, naturalistik, musikal, dan eksistensial.

Dalam praktiknya, seorang guru bisa menerapkan tes Multiple Intelligence Research lebih dulu untuk memetakan kecerdasan anak yang paling dominan.

Biasanya guru akan mengambil hasil kecerdasan yang paling menonjol di antara sembilan jenis kecerdasan itu untuk kemudian dijadikan acuan dalam aktivitas pembelajaran yang tertuang dalam lesson plan.

Di situlah guru akan mampu memahami gaya belajar anak secara tepat.

Pada hakikatnya tidak ada pembelajaran yang sulit. Yang ada adalah seorang guru yang tidak siap dengan materi ajar dan tidak mengetahui gaya belajar siswa.

Tidak ada anak yang bodoh, yang ada adalah orang tua atau guru yang tidak memahami pontesi anak. Yang perlu dijadikan renungan bersama, sebelum membentuk karakter seorang anak, guru atau pendidik haruslah memperkuat karakternya terlebih dulu.

Murid bergantung pada kapasitas guru di dalam mengawal proses belajar mengajar.

A Kanzul Fikri
Pengajar di PP Al-Aqobah Jombang
akhmadkanzulfikri87@gmail.com

Penulis: Pipit Maulidiya
Editor: Adrianus Adhi
Sumber: Surya Cetak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved