Berita Jember

Plesir ke Desa Wisata Hutan Bambu Sumbermujur di Lumajang

"Meskipun tempat ini merupakan tempat wisata, kami tetap ingin mengedepankan edukasi dan konservasi di tempat ini," ujar Agus.

Plesir ke Desa Wisata Hutan Bambu Sumbermujur di Lumajang
surabaya.tribunnews.com/sri wahyunik
Hutan Bambu di Lumajang 

SURYA.co.id | LUMAJANG - Hutan Bambu Sumbermujur di Desa Sumbermujur,Kecamatan Candipuro Kabupaten Lumajang, merupakan salah satu desa wisata di Jawa Timur.

Pengelolaan wisata hutan bambu itu patut menjadi percontohan sebuah desa wisata. Tidak aneh pula, wisata hutan bambu Sumbermujur menjadi percontohan desa wisata juga Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) di Kabupaten Lumajang.

Berada di bawah Gunung Semeru, tidak sulit mencari wisata hutan bambu Sumbermujur. Meski berbatasan dengan kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), tepatnya di bawah Gunung Semeru, akses jalan sampai ke hutan bambu terbilang bagus. Kendaraan roda empat bisa menjangkau hingga ke lokasi parkir hutan bambu.

Pengunjung yang menuju hutan bambu juga disuguhi pemandangan indahnya persawahan. Saat Surya berkunjung ke tempat wisata itu, pekan ketiga Oktober 2019, hamparan tanaman pagi yang hijau, juga bulir padi yang menguning menjadi suguhan mata. Belum lagi Gunung Semeru yang menjulang tinggi seakan mengucapkan selamat datang.

Polsek Candipuro yang berada di Jalan Raya Lumajang - Malang menjadi kawasan tetenger untuk masuk ke kawasan hutan bambu. Dari jalan raya tersebut, pengunjung masih masuk sekitar 15 kilometer. Pengunjung tidak perlu khawatir untuk menjangkaunya, karena papan petunjuk menuju tempat wisata itu terbilang jelas. Belum lagi akses jalan yang terbilang bagus, serta pemandangan yang indah.

Setibanya di Wisata Hutan Bambu Sumbermujur, deretan tanaman bambu menyambut pengunjung. Tidak usah khawatir bosan di tempat itu. Sebab selain pengunjung bisa berwisata edukasi perihal bambu, wisatawan juga bisa menikmati dinginnya air yang bersumber dari Sumber Deling. Anak-anak juga bisa berenang di kolam renang yang disediakan pengelola wisata itu sejak tahun 2016.

Adalah era kolonial Belanda yang menyuruh penduduk setempat menanam bambu di kawasan itu di tahun 1930-an. Belanda menyuruh penduduk menanam bambu karena keberadaan sumber mata air di tempat itu. Sumber Deling, demikian nama sumber mata air itu. Di sekitar Sumber Deling memang sudah tumbuh rumpun-rumpun bambu. Kolonial Belanda kemudian menatanya, dan meminta penduduk menanam lebih banyak bambu.

Singkat cerita, kawasan yang dulunya berada di Desa Penanggal Kecamatan Candipuro itu menjadi sentra bambu. Tahun 1972, terjadi pemekaran desa. Kawasan hutan bambu itu masuk ke wilayah Desa Sumbermujur. Kawasan hutan bambu itu berada di lahan Tanah Aset Desa (TAD) Sumbermujur. Kini areal hutan bambu itu berada di lahan seluas 14 hektare.

"Jadi kalau bicara sejarah, hutan bambu ini sudah ada sejak jaman era kolonial Belanda, kemudian sempat rusak ketika kedatangan penjajah Jepang. Kemudian ketika sudah menjadi aset desa, warga sini kembali menjaga dan melestarikannya," ujar Agus Wijaya, Wakil Ketua Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) Sabuk Semeru. Pokdarwis Sabuk Semeru kini yang bertanggungjawab atas pengelolaan wisata hutan bambu tersebut.

Pokdarwis itu terbentuk tahun 2014. Tetapi pengelolaan hutan bambu itu sudah mulai tertata sejak 1972 melalui keberadaan Kelompok Pelestari Sumber Alam (KPSA). Setelah Pokdarwis terbentuk, barulah pengelolaan dilakukan oleh Pokdarwis dan tetap melibatkan orang-orang di KPSA. Apalagi anggota KPSA juga warga Desa Sumbermujur. Pokdarwis Sabuk Semeru juga menjadi Pokdarwis pertama di Kecamatan Candipuro.

Halaman
12
Penulis: Sri Wahyunik
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved