Jumat, 29 Mei 2026

Citizen Reporter

Pengerajin Songkok di Desa Bungah, Kabupaten Gresik Tembus Hingga Malaysia

Selain terkenal dengan sentra perajin rebana, Desa Bungah juga dikenal sebagai sentra peci/songkok.

Tayang:
Penulis: Pipit Maulidiya | Editor: Adrianus Adhi
ist/Citizen Reporter
Pengerajin Songkok di Desa Bungah, Kabupaten Gresik, Pasaer Tembus Hingga Malaysia 

SURYA.co.id - Desa Bungah, Kabupaten Gresik, merupakan salah satu wilayah yang menjadi pusat pemerintahan di antara desa-desa yang ada di sekitar Bungah.

Penduduk desa ini memiliki banyak aktivitas yang cukup produktif.

Itu bisa dilihat dari banyaknya wirausaha yang digeluti masyarakat Bungah.

Selain terkenal dengan sentra perajin rebana, Desa Bungah juga dikenal sebagai sentra peci atau songkok.

Istilah songkok mengacu dari bahasa Melayu dan Bugis.

Songkok menjadi penutup kepala yang resmi ketika menghadiri upacara-upacara resmi seperti upacara perkawinan, salat Jumat, dan upacara keagamaan bagi sebagian warga Indonesia.

Dalam rangka merawat kerajinan khas Nusantara, banyak warga Desa Bungah yang menjadi perajin songkok.

Ada puluhan perajin di desa itu. Merek yang terkenal di kalangan pemakai songkok adalah Assa, Pondok Indah, Dua Pendopo, dan Sahara lahir dari tangan-tangan terampil mereka.

Salah satunya Nawadlir (50) yang sudah menjadi perajin songkok selama 19 tahun.

Ia menuturkan, usaha yang digelutinya selama ini karena terdorong oleh warga Bungah yang sama-sama terampil membuat kerajinan itu.

"Kami dituntut untuk menguasai keahlian memproduksi dan mendistribusikan songkok,” imbuhnya, Sabtu (29/9/2019).

Harga songkok dipatok Rp 30.000 sampai Rp 50.000.

Harga itu bergantung pada motif, bahan, dan model.

Menurut Nawadlir, karena begitu banyaknya perajin songkok di Desa Bungah, ia lebih menyasar pendistribusian di kalangan menengah ke bawah dan mengutamakan kualitas serta inovasi seperti penambahan bordir, lukisan, atau soga, bahkan bentuk songkok yang atapnya menyerupai kerucut.

“Kami mengirimkan songkok ke berbagai daerah di Jawa, Kalimantan, bahkan sampai ke Malaysia,” tuturnya.

Dalam distribusi, Nawadlir tak hanya memasarkan di kalangan desanya saja, tetapi juga menggunakan jejaring media sosial untuk menarik pelanggan dan memperluas pendistribusian songkoknya.

Tak hanya itu, pembeli tetap pun sering ramai berdatangan ketika Ramadan menjelang hari raya Idulfitri dan musim haji.

“Paling ramai, pesanan songkok ini ketika Ramadan dan musim-musim haji,” tutur Nawadlir.

Dian Karimah Wildani
Mahasiswa Sastra Inggris, Universitas Trunojoyo Madura
diankarimah13@gmail.com

Sumber: Surya Cetak
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved