Berita Blitar

Warga di Blitar Keluhkan Banyak Ikan Mati Diduga akibat Tercemar Limbah Pabrik Gula

Pabrik Gula (PG) PT Rejoso Manis Indo (RMI) di Desa Rejoso, Kecamatan Binangun, Kabupaten Blitar kembali dipersoalkan warga.

Warga di Blitar Keluhkan Banyak Ikan Mati Diduga akibat Tercemar Limbah Pabrik Gula
Foto: imam taufiq
Sungai Lemon yang diduga tercemar limbah Pabrik Gula(PG) Rejoso Manis sehingga menyebabkan banyak ikan mati dan airnya berubah warna dan berbau. 

SURYA.co.id | BLITAR - Pabrik Gula (PG) PT Rejoso Manis Indo (RMI) di Desa Rejoso, Kecamatan Binangun, Kabupaten Blitar kembali dipersoalkan warga.

Sebelumnya pabrik ini bermasalah terkait pembebasan lahan warga, dugaan penyerobotan aset desa (tanah), hingga pemblokiran jalan masuk ke PG selama berbulan-bulan.

Kini saat giling perdana (uji coba) yang dimulai 22 Agustus 2019, PG itu kembali dipersoalkan warga desa setempat.

Sebab, ada dugaan pencemaran sungai, yang ada di belakang pabrik seluas 22 hektare (Ha) itu.

Entah ada pipa yang bocor atau ada penyebab lain, warga mempersoalkan karena banyak ikan yang mati di sepanjang Sungai Lemon. Sungai Lemon itu membentang sepanjang tiga desa, yakni Desa Rejoso sendiri, Desa Umbuldamar, Desa Tawangrejo.

Warga di tiga desa itu mengeluhkan karena bau air sungainya sudah berubah. Yakni, berbau badek dan warnanya berubah jadi hitam dan keruh.

"Sejak tiga hari kemarin, mulai Minggu (15/9), sampai Selasa (17/9) siang kemarin, warga ramai-ramai cari ikan ke sungai karena ikannya klenger dan bahkan banyak yang mati. Padahal, selama ini tak pernah ada kejadian seperti itu. Itu terjadi sejak pabrik gula itu operasional," ujar warga yang enggan disebutkan namanya.

Karena itu, warga meminta agar dugaan pencemaran limbah pabrik gula itu segera diantisipasi. Sebab jika tidak, akan membuat pencemaran kian meluas karena aliran sungai itu hingga ke Sungai Brantas.

Tak hanya dugaan pencemaran sungai, baunya juga dikeluhkan. Katanya, sejak berlangsung giling perdana itu, bau tak sedap masuk ke perkambungan hingga membuat warga tak nyaman. Warga merasa terganggu karena baunya menyengat hidung.

"Baunya terasa campur-campur, ada rasa asin, manis, bahkan badek. Dan, warga sangat mengeluhkannya. Memang, jarak pabrik dengan perkampungan warga, sangat dekat atau hanya hitungan meter," ujarnya.

Halaman
123
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved