Senin, 13 April 2026

Teknologi Robot Semakin Banyak Dipakai di Industri Pengolahan Makanan dan Minuman

Mugi Harfianza, Head of Robotic & Discrete Automation ABB Indonesia, mengatakan saat ini ada 60 persen industri olahan mamin yang memanfaatkan robotic

surabaya.tribunnews.com/sri handi lestari
Dari kiri ke kanan : Head of Robotic & Discrete Automation ABB Indonesia, Mugi Harfianza bersama Michel Burtin, Presiden Direktur ABB Indonesia, serta B Sonny Sulaksono, Kepala Pusat Penelitian & Pengembangan IKFLMATE Kemenperin didampingi Chen Kang Tan, Head of Motor & Generator ABB Indonesia di pameran Roadshow Indoenesia Industry 4.0 Readiness Index (INDI 4.0), Selasa (17/9/2019). 

SURYA.co.di | SURABAYA - Era teknologi industri 4.0 mendorong industri memanfaatkan robotic dalam produksinya.

Secara global pengguna robotic masih dilakukan untuk industri otomotif dan elektronik. Namun di Indonesia, saat ini yang banyak memanfaatkan robotic adalah industri olahan makanan dan minuman (mamin).

Mugi Harfianza, Head of Robotic & Discrete Automation ABB Indonesia, mengatakan saat ini ada 60 persen industri olahan mamin yang memanfaatkan robotic untuk proses produksinya.

"Dari jumlah itu, sekitar 50 persen industri olahan mamin-nya ada di Jawa Timur," kata Mugi disela kegiatan pameran Indonesia Industry 4.0 Readiness Index (INDI 4.0) oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kementrian Perindustrian di Surabaya, Selasa (17/9/2019).

Diantaranya yang sudah melakukan kerjasama dengan ABB Indonesia adalah industri mamin seperti PT Indolakto, Bogasari dan Nestle.

Diakui serapan robotic di industri mamin, mengalami pertumbuhan yang cukup besar. Namun Mugi tidak memiliki angka pasti.

Sementara itu, penggunaan robotic di industri Indonesia di tahun 2017 ke tahun 2018 tumbuh sekitar 20 persen. Diprediksi tahun 2019 juga akan tumbuh sekitar 20 persen untuk semua sektor industri.

Di tahun 2018 lalu, robot di industri dalam negeri mencapai 1.200 unit. Sementara di tahun 2017 yang hanya 950 unit robot. “Dengan tren pertumbuhan itu, mudah-mudahan implementasi robot bisa dimulai sekaligus ini bekal kami mendukung roadmap pemerintah dalam ‘Making Indonesia 4.0,” tambah Mugi

Saat ini masih banyak faktor yang perlu mendapat perhatian terkait implementasi robot oleh industri. Seperti infrastruktur industri terkait kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) yang mengoperasikan teknologi robot serta proses standarisasi di industri tersebut.

Beberapa industri masih menghadapi masalah terkait proses standarisasi dalam mengimplementasikan robot.

“Fungsi robot adalah repetisi pekerjaan yang sudah diajarkan di awal, artinya kalau misalnya ada proses standarisasi yang masih bermasalah maka potensinya adalah proses poduksi juga bermasalah,” ungkap Mugi.

Selain itu, penerapan robot di industri juga terkait persepsi biaya atas penerapan robot yang sebetulnya sangat bergantung pada nilai dari kastemer terhadap penerapan robot itu.

“Mau dibilang murah juga nggak, mau dibilang mahal juga sangat relatif. Hal itu tergantung output value dari produksi yang diinginkan,” tambah Mugi.

Sementara itu, Presiden Direktur ABB Indonesia Michel Burtin, menyatakan pihaknya berkomitmen mendukung roadmap Pemerintah dalam ‘Making Indonesia 4.0’, dengan menghadirkan serangkaian teknologi digital lintas industri berupa solusi smart sensor, digital power train serta robot YuMI.

“Kami berkomitmen untuk menjadi bagian dari transformasi digital ekonomi Indonesia. Baik itu mengenai efisiensi energi, manufaktur maju atau infrastruktur perkotaan, ABB memiliki produk, solusi, dan penawaran layanan yang luas untuk melengkapi peta jalan Indonesia di masa depan dalam revolusi industri keempat,“ ungkap Michel.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved