Minggu, 19 April 2026

Berita Trenggalek

Ajarkan Pembuatan Pupuk dan Pertisida Organik, Ini Target Pemkab Trenggalek

Dalam pelatihan itu, bahan-bahan senilai Rp 50.000 dapat membuat pupuk dan pertisida organik sekitar 100 liter.

Penulis: Aflahul Abidin | Editor: Titis Jati Permata
surya.co.id/aflahul abidin
Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin mengikuti Labuh Laut di Argopark Trenggalek, Rabu (4/9/2019). 

SURYA.co.id | TRENGGALEK – Pemkab Trenggalek mengajarkan pembuatan pupuk dan pertisida organik kepada para penyuluh pertanian dan kelompok tani dalam acara Labuh Tani di Argopark Trenggalek, Rabu (4/9/2019).

Harapannya, para petani di Trenggalek bisa membuat pupuk dan pertisida secara mandiri sehingga lebih menghemat biaya pertanian.

Dalam pelatihan itu, bahan-bahan senilai Rp 50.000 dapat membuat pupuk dan pertisida organik sekitar 100 liter.

Dana yang sama hanya bisa digunakan untuk membeli pupuk dan pertisida organik buatan pabrik satu botol ukuran setengah liter.

Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin mengatakan, sebanyak 20 persen lahan pertanian di Kabupaten Trenggalek sudah rutin menggunakan pupuk dan pertisida organik.

Catatan SURYA.co.id, lahan pertanian di kabupaten itu mencapai 12,028 hektare (ha).

“Kami targetkan 40 persen lahan di Trenggalek tahun depan menjadi lahan organik,” kata pria yang akrab disapa Mas Ipin itu, usai acara.

Agar bahan pangan organik punya pasar, pemkab akan mengimbau instansi-instansi yang membutuhkan untuk menggunakan hasil panen petani lokal.

“Misalnya RSUD, instansi itu butuh bahan makanan organik untuk makanan sehat bagi pasien. Kalau bisa, nanti diambil dari para petani kami,” ungkapnya.

Menurut Mas Ipin, pertanian organik bukan hal baru bagi para petani.

Sudah banyak petani menggunakan pupuk dan pertisida organik sebagai campuran untuk pengolahan lahan mereka.

Namun, masih banyak yang menggunakan pupuk dan pertisida organik kemasan.

“Kami menggundang mereka datang untuk mendesiminasikan ilmu untuk membuat sendiri,” ungkapnya.

Plt Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Trenggalek Agung Sudjatmiko mengatakan, kebanyakan sawah di Trenggalek menggunakan campuran pupuk dan pertisida organik serta kimia.

“Tidak langsung murni organik. Perlu merintis. Misalnya, 1 tahun pertama menggunakan pupuk organik 200 kilogram (kg) per hektare. Tahun kedua, berkuran menjadi 100 kg per ha. Sehingga pada tahun ke empat baru murni organik,” ungkapnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved