Bangkitkan Lagi Eksistensi Batik Tulis Sekardangan yang Hampir Punah
Batik Sekardangan bisa dibilang hampir punah. Tinggal tersisa dua perajin batik di sana : Sugiati (65) dan Kusairi (49)
Penulis: M Taufik | Editor: Eben Haezer Panca
SURYA.co.di | SIDOARJO - Sekitar tahun 1960-an, Kelurahan Sekardangan menjadi salah satu sentra batik tulis di Sidoarjo. Namun predikat itu semakin luntur seiring terus berkurangnya minat warga menjadi perajin batik.
Batik Sekardangan bisa dibilang hampir punah. Tinggal tersisa dua perajin batik di sana. Sugiati yang sudah berusia 65 tahun, dan Kusairi yang sekarang usianya sekitar 49 tahun.
"Kami melakukan riset, dan melihat kondisi itu kami berusaha untuk membantu mengembalikan eksistensi Batik Sekardangan yang hampir punah," ungkap Rektor Universitas 45 Surabaya, Mochammad Hatta, Jumat (9/8/2019).
Upaya itu diawali dengan acara sosialisasi dan Lomba Membatik yang digelar di Balai Kelurahan Sekardangan, Jumat sore. Sejumlah ibu rumah tangga terlihat antusias mengikuti lomba tersebut.
Kegiatan tersebut digelar oleh Tim PKM (program kemitraan masyarakat) Universitas 45 Surabaya yang diketuai Ida Kusmawati Tjahyani, dengan anggota Wahyuni Baharudin, dan Evi Yuliawati.
Menurutnya, kegiatan ini merupakan program lanjutan untuk mendukung eksistensi batik di Sidoarjo.
Sebelumnya, kegiatan serupa juga digelar di sentra Batik Jetis Sidoarjo, dan bakal berlanjut ke beberapa sentra batik tulis lain di Kota Delta.
"Kali ini, kami juga menghadirkan Founder Jagoan Indonesia, Dias Satria. Agar bisa membantu pemasaran, strategi aplikasi dan sebagainya," ujar Ida di sela kegiatan.
Melalui kegiatan ini, diharapkan bakal muncul minat para perajin batik di Sekardangan. Terus berkembang, dalam hal kreativitas maupun strategi pemasaran dan sebagainya, agar Batik Sekardangan kembali berjaya.
Dalam acara tersebut, PKM Universitas 45 Surabaya juga menghadirkan Ny Sugiati, perajin batik Sekardangan yang berhasil bertahan dan tetap eksis hingga sekarang.
"Batik Sekardangan itu coraknya kalem, motifnya juga beragam dan tak kalah dengan batik tulis daerah lain. Tapi memang belakangan banyak perajin beralih haluan karena terkendala modal, kesulitan pemasaran, dan semakin jarangnya minat pembeli," sebut Sugiati.
Nenek satu cucu itu sendiri mengaku kesulitan dalam mempertahankan eksistensinya. Diakuinya, pemasaran lebih banyak dibantu teman-temannya dan dinas di Pemkab Sidoarjo.
"Memang harus ulet dan sabar," sebuh perajin batik yang punya lima pegawai untuk membantunya tersebut.
Dengan kegiatan-kegiatan seperti ini, diharapkan bisa mengembalikan minat perajin batik di Sekardangan. Tapi tentu, harus juga dibantu dalam marketing dan sebagainya, agar tidak putus di tengah jalan.
"Ini kegiatan pertama, dan semoga bisa berkelanjutan. Yang ujungnya dapat mengembalikan predikat Kelurahan Sekardangan sebagai salah satu sentra batik tulis di Sidoarjo," tukas Santoso, Lurah Sekardangan di kesempatan yang sama.
Dengan mengembalikan eksistensi batik sekardangan, tentu bakal berdampak positif terhadap perekonomian masyarakat. Ibu-ibu bisa membatik di rumah, kemudian dipasarkan, dan bisa menambah penghasilan keluarga.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/batik-tulis-sekardangan.jpg)