Senin, 11 Mei 2026

Pedasnya Harga Cabai Rawit Picu Inflasi di Kota Malang

Pedasnya harga cabai rawit menyebabkan sejumlah daerah mengalami inflasi. Salah satunya dalah kota Malang.

Tayang:
surya.co.id/rifky edgar
Bonasri, pedagang sayuran di Pasar Klojen, Kota Malang saat merapikan cabai rawit dagangannya. 

SURYA.co.id | MALANG - Kota Malang mengalami inflasi sebesar 0,20 persen pada bulan Juli 2019. Komoditi penyumbang inflasi tertinggi di kota bunga itu adalah cabai rawit.

Kepala BPS Kota Malang, Sunaryo menuturkan kenaikan cabai rawit mencapai 151 persen. Kenaikan tersebut mempengaruhi inflasi sebesar 0,18 persen.

"Tidak hanya di Kota Malang tapi kenaikan ini memberikan dampak secara nasional," tutur Sunaryo, Kamis (1/8/2019).

Selain cabai rawit, komoditi yang turut andil dalam inflasi Kota Malang adalah daging ayam ras, cabai merah dan emas perhiasan. Pada bulan ini, inflasi Kota Malang menjadi tertinggi keempat dibawah Jember.

Sementara itu barang yang menahan laju inflasi adalah angkutan udara, bawang putih, tomat sayur, mujair dan bawang merah.

Selain di Malang, harga cabai rawit juga memicu inflasi di Jember. 

Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) Jember, bulan Juli 2019, Kabupaten Jember mengalami inflasi sebesar 0,24 persen.

Komoditas penyumbang inflasi antara lain cabai rawit, udang basah, daging ayam ras, emas perhiasan, dan cabai merah.

"Cabai rawit dan daging ayam ras yang jadi pemicu cukup tinggi. Ini seperti kita prediksi bulan kemarin. Meskipun bulan sebelumnya ayam penyebab deflasi, sekarang jadi penyumbang inflasi," ujar Kepala BPS Jember Arif Joko Sutejo saat rilis bulanan di Kantor BPS Jember, Kamis (1/8/2019).

Seperti diberitakan SURYA.co.id, pada Juli lalu harga cabai rawit melambung tinggi hingga mencapai Rp 80 ribu per kilogram.

Hingga awal Agustus ini, harga cabai rawit belum berangsur turun.

Sedangkan harga daging ayam sempat turun drastis di bulan Juni.

Namun di bulan Juli harga daging ayam ras kembali naik hingga di kisaran Rp 34 ribu per kilogram.

Sementara itu Fungsi Asesmen Ekonomi dan Surveilans Bank Indonesia (BI) Jember Hafidz Yudhansyah menambahkan, BI Jember pernah melakukan penelitian perihal harga cabai di Jember.

Hasilnya ada penyebab kenapa harga cabai rawit bisa bergejolak naik dan turun sehingga kerap menjadi penyebab inflasi dan deflasi.

"Harga cabai itu ditentukan oleh beberapa faktor, antara lain karena pasokan barang dan panjangnya rantai distribusi cabai," kata Hafidz.

Jika pasokan sedikit maka harga mahal. Panjangnya rantai distribusi juga mengakibatkan rentang harga dari petani sampai ke konsumen cukup jauh.

"Karenanya kami dari Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) akan melakukan rapat koordinasi wilayah, salah satunya membicarakan harga cabai rawit ini. Semoga kerjasama antar daerah bisa menjadi solusi," ujar Hafidz yang ikut dalam rilis BPS itu. (aminatus sofya/sri wahyunik)

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved