Sambang kampung Kendangsari

Giatkan Warga Belajar Ketrampilan Menjahit dan Membatik yang Diinisiasi Mahasiswa KKN Unair

Memiliki kampung dengan perekonomian mandiri menjadi mimpi warga RT 3 RW 4 Kendangsari, Kecamatan Tenggilis Mejoyo Surabaya.

Giatkan Warga Belajar Ketrampilan Menjahit dan Membatik yang Diinisiasi Mahasiswa KKN Unair
SURYAOnline/ahmad zaimul haq
PUNG KREATIF - Warga mengikuti pelatihan menjahit yang digagas mahasiswa Unair yang sedang berkegiatan KKN sebagai pengembangan kampung pelangi Kendangsari sebagai kampung kreatif. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Memiliki kampung dengan perekonomian mandiri menjadi mimpi warga RT 3 RW 4 Kendangsari, Kecamatan Tenggilis Mejoyo Surabaya. Banyaknya ibu rumah tangga juga menjadi potensi besar warga kampung untuk memulai usaha mandiri.

Untuk itulah sejak tahun lalu, warga selalu dilibatkan dalam kegiatan pembelajaran membuat batik. Bahkan tahun ini warga diajak belajar menjahit di balai RT.

Ketua RT 3, Suliono mengungkapkan sejak rutin mendapat kunjungan dari mahasiswa dan bantuan pelatihan ketrampilan, ia dan warganya bercita-cita memiliki produk yang bisa menjadi ciri khas kampungnya.

"Banyak ibu rumah tangga disini, kebanyakan hanya merawat anak atau cucu. Kalau punya ketrampilan pastinya nanti akan bermanfaat untuk ke depannya,"urainya.

Iapun menyediakan balai RT untuk dimanfaatkan sebagai tempat latihan. Apalagi kampungnya baru saja mendapat bantuan mesin jahit dari mahasiswa Universitas Airlangga yang menggelar Kuliah Kerja Nyata.

Suliati (45) warga kampung mengungkapkan ia dan ibu-ibu di kampung harus belajar ulang cara memakai mesin jahit yang ada di balai RT. Pasalnya mesin jahit yang ada terbilang modern dan berbeda dengan mesin jahit di masa muda Suliati.

"Kalau jahit pernah, tapi mesin jahit yang ini beda. Cara masukin benangnya saja beda. Jadi harus belajar lagi,"urainya.

Untuk permulaan, Suliati mengungkapkan ingin menjahit sarung bantal dan guling. Dengan jahitan sederhana dan kain batik sibori yang dibuatnya tahun lalu. Ia ingin mencoba membuat produk untuk digunakan sendiri terlebih dahulu.

"Kalau sudah punya sendiri, nanti bisa promosi ke orang-orang. Mungkin nanti bisa bikin dompet atau taplak juga,"lanjutnya.

Elida Ulfiana, dosen lapangan Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) Pendidikan Tinggi (Dikti) Unair, menjelaskan tahun lalu pihaknya juga mengadakan KKN di RT 3 RW 4 Kendangsari. Mereka awalnya mengajarkan membatik Shibori dengan teknik seperti batik jumputan dan tahun ini pihaknya mengajarkan ketrampilan menjahit.

"Ada beberapa yang bisa menjahit dan ada yang beberapa kali belajar menjahit. Warga cukup antusias setiap kedatangan kami,"urainya.

Ia mengungkapkan pelatihan menjahit dna membatik diberikan agar warga bisa memulai berwirausaha dengan membuat produk sejak bahan baku. Dari ketrampilan batik Shibori bisa berkelanjutan hingga memproduksi souvenir khas kampung

"Kami juga terus merefresh kemampuan warga dengan tetap mengunjungi kampung usai KKN selesai,"pungkasnya.

Ke depan, pihaknya juga sedang melakukan upaya kerjasama dengan Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Surabaya dalam mendukung pelatihan kewirausahaan untuk pengembangan batik Shibori warga.

Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved