Ada 20 Pelajar dan Mahasiswa di Tulungagung Terjangkit HIV, Perilaku LSL Turut Berperan
Kata Ifada, perilaku laki-laki seks laki-laki (LSL) turut menyumbang angka ini. "LSL itu kan bisa antara laki-laki dengan waria atau dengan laki-lak
Penulis: David Yohanes | Editor: Eben Haezer Panca
SURYA.co.id | TULUNGAGUNG - Jumlah pelajar dan mahasiswa di Tulungagung yang mengidap HIV semakin mengkhawatirkan.
Menurut Pelaksana Program Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Tulungagung, Ifada Nur Imaniar, ada 20 orang penderita HIV dari kalangan pelajar dan mahasiswa di Tulungagung.
"Temuan yang terbaru berusia 19 tahun dan 22 tahun," ungkap Ifada, Senin (22/7/2019).
Diakui Ifada, perilaku laki-laki seks laki-laki (LSL) turut menyumbang angka ini.
Menurutnya, perilaku LSL di Tulungagung cukup marak.
Misalnya saja, dari kalangan waria ada 28 kasus HIV.
"LSL itu kan bisa antara laki-laki dan waria, atau laki-laki dengan laki-laki," sambung Ifada.
Ifada meyakini, angka yang sebenarnya jauh lebih besar.
Perempuan yang juga bekerja sebagai psikolog ini mengatakan, perilaku LSL memang tidak lepas dari konstruksi psikologis sejak anak.
Misalnya anak laki-laki tumbuh tanpa sosok ayah, atau tidak punya figur ayah yang bisa memberikan kasih sayang.
Anak yang merindukan kasih sayang ayah ini, akan rentan jika ada sosok laki-laki yang memberinya perhatian.
Dalam masa puber, pikirannya bisa terkonstruksi bahwa lebih nyaman dengan laki-laki.
Masih menurut Ifada, dalam Skala Kinsey (skala heteroseksual-homoseksual), jika masih dalam pikiran, seseorang masih bisa disembuhkan.
"Jika belum pernah melakukan kegiatan seksual sesama jenis, masih bisa dikembalikan dengan campur tangan psikolog dan psikiater," ujar Ifada.
Namun bagi pelaku LSL yang aktif berhubungan seksual, KPA melakukan pendekatan yang berbeda.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/ilustrasi-hiv_20170209_215916.jpg)