Sambang Kampung
Warga Tembok Gede III Surabaya Sulap Limbah Elektronik jadi Robot
Di kampung Tembok Gede III, Surabaya, limbah elektronik tak sia-sia. Limbah-limbah itu disulap warga menjadi robot.
Penulis: Delya Octovie | Editor: Eben Haezer Panca
SURYA.co.id | SURABAYA - Suara suling bambu ditemani kicauan burung menyapa siapa saja yang melewati gapura berbahan styrofoam Tembok Gede III RT 03 RW 02 Bubutan, Surabaya pagi itu, Senin (19/6/2019).
Namun, ada satu lagi suara yang menyapa para pengunjung, yakni suara robot yang mengatakan 'Selamat datang di Kampung Inovatif, jangan buang sampah sembarangan', sambil menggerakkan kepala dan tangan yang memegang karung sampah.
"Dia ini ingin mengajak masyarakat saat masuk kampung kami, itu jangan buang sampah sembarangan," kata Aseyan (51), Ketua RT 03 RW 02 Tembok Gede III.
Bagian tubuh robot itu dibuat dari televisi tabung bekas, sama seperti sebuah akuarium televisi berisi ikan-ikan kecil di seberangnya.
Aseyan mengatakan, warga mulai aktif memanfaatkan limbah elektronik sejak mengikuti lomba pengolahan sampah tingkat kota pada tahun 2018.
Mereka tak ingin limbah elektronik hanya berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Sebelumnya, kegiatan bank sampah kampung sudah berjalan dengan baik, sehingga mudah untuk memilah sampah yang sekiranya bisa disulap menjadi sesuatu yang bernilai seni dan jual tinggi.
"Kami ingin menyadarkan masyarakat bahwa kalau kami mau, sampah akan memiliki nilai jual, tinggal pintar-pintarnya mengolah sampah. Kalau warga ingin berinovasi tapi kesulitan, kami juga akan turun lapangan," kata Anang Dharmawan (50) Wakil Ketua RT 03 RW 02 Tembok Gede III.
Ragam inovasi yang dimiliki kampung bertitel Kampung Pintar tersebut, rupanya datang dari ide-ide liar duet Aseyan-Anang.
Aseyan merupakan pekerja serba bisa yang berjiwa seni, sedangkan Anang seniman berbagai medium.
Sampah non elektronik juga dimanfaatkan mereka, mulai dari ban yang dijadikan wastafel dan motor, plastik jadi lampu hias, alat masak dan makan jadi jam dinding, dan masih banyak lagi.
"Menurut kami, sampah adalah sesuatu yang tidak bisa dipungkiri, pasti selalu ada. Kita yang membuat, kita yang bertanggungjawab," ucap Aseyan.
Ia berharap, kampung-kampung lain bisa mulai mengolah sampah dan menghasilkan inovasi-inovasi lainnya.
"Setiap masyarakat, utamanya pengurus kampung, harus komitmen supaya bisa mengubah mindset menjadi sadar lingkungan. Pengurus kampung itu bagaikan motor penggerak. Kalau komitmen, kampung pasti bisa berubah," tegasnya.
Sedangkan Anang berharap, masyarakat memahami bahwa kemajuan kampung adalah tugas bersama, dan menerima kampung sebagai embrio kota.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/warga-sulap-limbah-elektronik-jadi-robot.jpg)