Berita Tulungagung

Penjualan Perajin Ketupat di Tulungagung Menurun, Ini Sebabnya

Penjualan ketupat menurun lantaran banyaknya acara Kupatan massal di berbagai wilayah di Tulungagung.

Penjualan Perajin Ketupat di Tulungagung Menurun, Ini Sebabnya
surya/david yohanes
Sugito (36), salah satu penjual ketupat di Jalan HR Abdul Fatah Tulungagung. 

SURYA.co.id | TULUNGAGUNG - Sangat cekatan, Sugito (36) menganyam daun kelapa muda atau janur di tangannya. Tidak sampai lima menit, satu janur di tangannya berubah menjadi sebuah ketupat ukuran besar.

Laki-laki asal Kecamatan Kampak, Kabupaten Trenggalek ini setiap tahun menjajakan ketupat di Jalan HR Abdul Fatah Tulungagung. Biasanya Sugito mulai menggelar dagangannya pada hari raya Idul Fitri ke-5, hingga hari kupatan atau Idul Fitri ke-7.

“Saya ambil bahan janur dari pohon kelapa milik sendiri. Jadi modalnya tidak beli, tapi memetik sendiri,” ujar Sugito, Senin (10/6/2019).

Selain berjualan ketupat, Sugitu juga menjual janur.

Setiap 10 janur dijual Rp 5.000 hingga Rp 6.000, tergantung ukuran janur.

Sedangkan untuk ketupat yang sudah jadi dijual antara Rp 7.000 hingga Rp 8.000 per 10 ketupat.

“Pilihan orang beda-beda, ada yang suka beli bahan terus dibuat sendiri. Ada juga yang pilih beli jadi,” sambung Sugito.

Namun penjualan janur dan ketupat tahun ini menurun, dibanding tahun 2018.

Tahun lalu sehari sebelum hari raya kupatan, datangan Sugito sudah habis.

Sugito bisa menjual ketupat menjual 600 hingga 800 ketupat per hari.

Halaman
12
Penulis: David Yohanes
Editor: irwan sy
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved