Travelling
Road to Bunaken: Memanjakan Mata Tanpa Jeda
Ke Manado, kurang afdol bila tak berwisata ke Pulau Bunaken. Salah satu kawasan tercantik di Sulawesi Utara.
Penulis: Tri Dayaning Reviati | Editor: Parmin
SURYA.co.id | Ke Manado, kurang afdol bila tak berwisata ke Pulau Bunaken. Salah satu kawasan tercantik di Sulawesi Utara, yang memiliki keindahan bawah laut terbesar di negeri ini.
Terkenal dengan taman lautnya yang ditumbuhi beragam terumbu karang dan spesies biota lautnya. Karena itu, tak mengherankan bila Bunaken menjadi jujugan pelancong dalam dan luar negeri, para divers dan snorkling, hingga peneliti dari berbagai negara.
Sebagai taman nasional, luas Pulau Bunaken mencapai sekira 84.000 hektare. Kawasan seluas ini terbagi dalam lima pulau, Pulau Manado Tua, Pulau Siaden, Pulau Naen, Pulau Mantehage, dan Bunaken sendiri.
"Masing-masing memiliki kelebihan dan eksotisme tersendiri," ujar Jefry, tour guide asal Sangir, yang mendampingi rombongan dua bus.
Menuju lokasi wisata ini, alternatif paling mudah melalui pelabuhan Manado, dermaga Marina Plasa, dengan mencarter perahu. Tidak perlu antri, mengingat wisata dilakukan saat weekdays.
"Berbeda kalau musim libur, full. Terutama turis dari luar, yang berniat untuk snorkling dan diving," katanya.
Menurut Jefry, divers dari luar tertarik datang karena adanya tebing-tebing karang yang indah di dalam laut.
Untuk menyeberang, tidak butuh waktu lama, hanya sekira 40 menit. Alhamdulillah, tidak ada kendala berarti. Cuaca cerah. Sejauh mata memandang, hanya ada laut dengan gradasi warna hijau biru yang cantik dan bersih. Tidak terlihat ada kotoran sedikitpun.
Pemandangan indah selama berperahu membuat perjalanan tak terasa jenuh. Di laut dangkat, air laut yang bening, jernih, sehingga bisa terlihat ikan beragam warna dan karang-karang menyerupai gundukan.
Mendekati Pulau Bunaken, tampak di kejauhan terlihat gunung kecil yang lokasinya berada di Pulau Menado Tua.
"Gunung itu muncul saat Lokon meletus, dan melontarkan muntahannya cukup jauh," tuturnya.
Sebenarnya, Jefry mengungkapkan, kondisi air laut di Bunaken, tidak selamanya stabil. Karenanya, ada kalanya penyeberangan harus dihentikan saat gulungan ombak tinggi hingga dua meter.
"Biasanya pada bulan Oktober sampai Februari. Tetapi, bukan berarti turis mau. Mereka kadang ngotot tetap nyeberang. Mungkin karena sudah datang jauh-jauh. Terbanyak, masih wisatawan dari China," kata Jefry.
Tak mengherankan, jika saat ini pesawat dari negeri Tirai Bambu datang langsung ke Bandara Sam Ratulangi Manado. Setidaknya, ada enam provinsi di China yang membuka penerbangan langsung.
"Catatan, sekitar 100.000 pelancong China pertahun. Mungkin sekarang lebih," paparnya.
Spot foto
Beristirahat sejenak sesampai di lokasi dan menunggu perahu yang akan mengantar ke lokasi snorkling atau melihat biota laut melalui kaca di perahu, tidak ada salahnya menyempatkan mengambil foto atau berselfi rame-rame. Banyak spot foto menarik di kawasan ini.
Di sekitar pantai, spot perahu yang ditata berdiri rapi, jembatan penghubung kapal ke daratan atau di tugu bertuliskan Pulau Bunaken.
Di sini, tour guide menawarkan pilihan yang sama menariknya bagi wisatawan. Snorkling atau wisata taman laut dengan menyaksikan keindahan bawah laut tanpa harus berbasah-basah. Ini bisa dilakukan dengan berperahu yang dilengkapi kaca di dasar perahu (katamaran). Melalui kaca ini, keindahan hamparan bukit atau menara karang, tergambar jelas.
Ikan-ikan beragam jenis dan warna berseliweran, dan terasa dekat.
Jika memilih snorkling, terlebih dahulu mengenakan perlengkapan yang tersedia. Di air, peserta juga mendapat bekal roti. Bukan untuk konsumsi di air. Tetapi, untuk memancing ikan agar keluar dari persembunyiannya di karang-karang.
Maklum, memang Bunaken terkenal dengan terumbu karangnya. Cukup 30 menit, bermain air di laut Bunaken yang cantik dan berperahu keliling, saatnya kembali ke 'base camp'.
Rasa lapar pun mulai mendera. Tidak sulit mencari tempat makan di Bunaken. Pasalnya, resto-resto banyak berjajar di sepanjang lautnya. Tinggal pilih. Perkara, menu atau sajian rata-rata hampir sama dengan mayoritas ikan.
Seperti, menu pakis kembang pepaya, kuah asam ikan, ikan bakar tongkol, dan tak ketinggalan sambal dabu dabu. Semuanya enak dan ludes dalam sekejap.
Minum juga bisa pilih. Tetapi, es degan yang langsung dari buahnya, pilihan paling menarik.
Sebelum pulang, sempatkan untuk melihat hasil kerajinan warga setempat. Kaos dengan view Bunaken, peselam, hingga terumbu karang dan ikan-ikannya, atau daster tanpa lengan. Tidak hanya itu, ada juga pernak pernik gelang kalung dengan ciri khas burung hantu. Semua dengan harga terjangkau.
Perut kenyang, bermain air sudah, foto-foto beres, oleh-oleh sudah di tangan, saatnya berbenah dan kembali menyeberang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/pemandangan-pulau-bunaken-manado.jpg)