Berita Madiun
Purtini : Jalani Profesi Bidan dengan Ikhlas seperti Ibadah
Ibu tiga anak ini, sudah lebih dari 40 tahun mengabdikan dirinya untuk membantu orang lain, dengan menjadi bidan.
Penulis: Rahadian Bagus | Editor: Titis Jati Permata
SURYA.co.id | MADIUN - Menjadi seorang bidan, sudah menjadi cita-cita Purtini (68) sejak kecil.
Ibu tiga anak ini, sudah lebih dari 40 tahun mengabdikan dirinya untuk membantu orang lain, dengan menjadi bidan.
Wanita kelahiran 15 Januari 1951 ini, mengawali pendidikannya di bidang kesehatan di Sekolah Bidan Rumah Sakit Gambiran di Kediri.
Setelah lulus pada tahun 1972, ia melanjutkan pendidikan ke jenjang D3 di Poltekes Surabaya, di Kabupaten Magetan.
Setelah lulus sekolah, Purtini bertugas sebagai bidan di Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri.
Ia bertugas sebagai bidan di bawah lereng gunung, selama hampir empat tahun.
Banyak pengalaman berharga yang dia dapat selama bertugas sebagai bidan di sana.
Satu di antaranya, ia pernah menorehkan prestasi memasang 500 IUD (Intra Uterine Device) dalam sehari, dibantu seluruh bidan di Kabupaten Kediri, pada saat itu.
"Dulu saya pernah dapat juara KB, pemasangan IUD, sekitar 500 orang sekaligus, dikumpulkan ke atas di satu kecamatan, dibantu seluruh bidan kabupaten," katanya saat ditemui di tempat praktik sekaligus rumahnya di Jalan Pringgodani I no 42, Kecamatan Taman, Kota Madiun, Jumat (8/2/2019) sore.
Setelah itu, ia pindah ke Kota Madiun dan membeli sebuah rumah bekas di Jalan Pringgondani, Kota Madiun sekitar tahun 1978.
Ia kemudian merenovasi rumah tersebut menggunakan uang hasil membuka praktik bidan panggilan yang ia kumpulkan, dan mengubahnya menjadi tempat praktik.
Meski sudah puluhan tahun menjadi bidan, namun Purtini masih mengaku merasa jantungnya berdebar-debar saat menolong persalinan.
Apalagi, ketika pasien yang ia tangani mengalami pendarahan hebat.
"Suka dukanya, pernah ketika menolong pasien persalinan, pasien saya mengalami pendarahan yang hebat, jantung saya terasa berdebar-debar. Untungnya saat itu, saya langsung sigap menanganinya. Alhamdulillah ibu dan bayinya selamat dan sehat," cerita Purtini.
Ia menuturkan, menjadi seorang bidan harus siap selama 24 jam, untuk membantu persalinan.
Tak jarang, pintu rumahnya diketuk pada pagi dini hari, untuk membantu persalinan.
"Malam-malam diketuk, ada pasien mau melahirkan. Kalau dulu saya sendirian, hanya ada pembantu rumah tangga satu. Tapi kalau sekarang sudah ada empat karyawan," ujarnya.
Baginya, ia menganggap pekerjaanya adalah sebuah ibadah, sehingga ia selalu ikhlas menjalaninya.
Sudah tak terhitung, berapa wanita dan bayi yang ia bantu saat melahirkan.
Profesi bidan, kata Purtini sangat diperlukan untuk masyarakat, terutama bagi wanita.
Sebab, wanita sangat membutuhkan bidan, dimulai saat remaja, yakni penyuluhan kesehatan reproduksi remaja, setelah menikah mereka juga akan berkonsultasi dengan bidan, begitu juga ketika hamil, melahirkan, bahkan memasang KB juga ke bidan, hingga ketika wanita menopause membutuhkan bantuan bidan.
"Senangnya ya, ketemu banyak pasien, punya banyak kenalan dan teman. Bahkan banyak yang dulu waktu masih bayi dilahirkan saya yang membantu persalinan, sekarang dia juga melahirkan di sini," kata Purtini.
Sebagai bidan, ia tidak hanya memastikan agar bayi lahir dengan selamat, namun juga memastikan bayi tersebut lahir dengan sehat.
Oleh sebab itu, selama konsultasi hamil, ia selalu memberikan pengetahuan kepada para pasiennya, bagaimana cara merawat bayi selama di dalam kandungan.
"Di sini juga ada senam hamil, kelas ibu hamil, setiap Jumat. Mereka juga diajari cara memandikan bayi, meminumkan bayi, bagaimana cara merawat payudara, kami juga menyarankan KB setelah persalinan," katanya.
Dia menambahkan, di tempat praktiknya, juga melayani pasien imunisasi sekaligus sebagai posyandu.
Apabila ada balita dengan gizi buruk, akan diberikan penyuluhan, dan mengarahkan agar dibawa ke puskesmas.
"Kami juga melayani pasien imunisasi, kami juga menimbang. Misalnya ada balita dengan gizi buruk, tumbuh kembangnya bagaimana, dilihat di buku Kesehatan Ibu Anak, kalau grafiknya turun, kami melakukan penyuluhan, pemberian makanan tambahan, kami anjurkan ke puskesmas. Karena di puskemas ada pemberian makanan tambahan. Jika tidak ada perkembangan, dirujuk ke rumah sakit," katanya.
Kepada para wanita, ia berpesan agar mempersiapkan kehamilan.
Tidak hanya persiapan bagi diri sendiri, namun juga persiapan bagi gizi anak di kandungan.
"Kami menyarankan kalau belum punya BPJS, orangtua tidak mampu, segera lapor ke RT, dan harus membuat Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM). Dan yang paling penting, jangan lupa memperhatikan asupan makanan yang bergizi dan asupan nutrisi yang lengkap agar si Kecil bisa tumbuh dan berkembang memiliki potensi prestasi untuk menjadi generasi maju penerus bangsa" imbuhnya.
Alamat Praktik:
Jalan Pringgodani I No.42, Madiun, Jawa Timur.
Kata Mereka:
Peran bidan sebagai salah satu tenaga kesehatan strategis adalah memberikan pelayanan Kesehatan Ibu Anak, Keluarga Berencana dan kesehatan reproduksi perempuan mulai dari memberikan pelayanan atau edukasi pada masa sebelum nikah, pra hamil, pemeriksaan kehamilan, pertolongan persalinan, asuhan masa nifas, asuhan bayi baru lahir sampai usia 5 tahun dan prasekolah serta pelayanan KB dan kesehatan reproduksi perempuan.
Bidan bekerja pada setiap fasilitas kesehatan, baik pemerintah maupun swasta mulai dari fasilitas kesehatan tingkat primer (Puskesmas, Puskesmas Pembantu dan jaringannya, klinik, praktik mandiri bidan) di Rumah Sakit dan fasilitas kesehatan lainnya.
Kebijakan penempatan bidan disetiap desa untuk mendekatkan akses pelayanan kesehatan kepada masyarakat sehingga bidan ada di tengah-tengah masyarakat dan bersama masyarakat.
Pengalaman saya dengan ibu Bidan Purtini, beliau sangat telaten dan sabar ketika memberikan saran dan persiapan saat menjelang persalinan. Di samping itu, beliau juga turut membantu dalam tumbuh kembang anak, sehingga anak saya pun dari lahiran hingga sekarang selalu sehat berkat saran-saran dan edukasi dari Bidan Purtini tentang asupan makanan dan vitamin yang harus dikonsumsi anak saya. Terima kasih ibu Bidan Purtini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/ibu-tiga-anak-ini-sudah-lebih-dari-40-tahun-mengabdikan-dirinya.jpg)