Jumat, 24 April 2026

Berita Jember

Keluarga Berharap Sucipto yang Diduga Tertimbun Longsor Gunung Kapur di Puger Segera Ditemukan

Hingga kini seorang pekerja yang turut jadi korban longsor gunung kapur di Puger, Jember, belum ditemukan. Keluarga pun setia menanti hingga ketemu.

Penulis: Sri Wahyunik | Editor: Eben Haezer Panca
surabaya.tribunnews.com/sri wahyunik
Lokasi longsornya gunung kapur di Puger, Jember 

SURYA.co.id | JEMBER - Keluarga penyintas longsornya tebing kapur Gunung Sadeng Kecamatan Puger, Sucipto, berharap tubuh Sucipto segera ditemukan.

Keluarga Sucipto bahkan menunggu di lokasi longsor sejak tebing itu longsor dan Sucipto dinyatakan belum ketemu, Senin (25/3/2019).

"Keluarga di sini terus, dari kemarin, semalam sampai hari ini. Kami ingin adik saya ditemukan dalam keadaan apapun, ditemukan secepatnya. Karenanya kami inginkan supaya pencarian dilakukan," kata Miseno, kakak kandung Sucipto, saat ditemui Surya di lokasi longsor, Selasa (26/3/2019).

Kepada Surya, Miseno bercerita, dia dan adiknya baru tiga bulan bekerja di penambangan batu Mangaan (Mn) atau warga lokal menyebutnya batu hitam itu. Penambangan batu hitam itu baru berjalan tujuh bulan. Miseno dan Sucipto baru tiga bulan menjadi buruh tambang di situ.

"Kami masih dalam tahap melacak urat batu hitam, belum menambang karena batu hitamnya masih belum ketemu. Kami bekerja di satu lubang," kata Miseno.

Pencarian Korban Longsor Gunung Kapur Sadeng Jember, Tunggu Alat untuk Hancurkan Material

Wagub Emil Prihatin Longsor Gunung Kapur Sadeng Puger Kabupaten Jember

Di penambangan itu ada lima buah lubang. Panjang setiap lubang atau goa penambangan beragam, tergantung lama atau barunya proses penambangan. Goa paling panjang berukuran 250 meter persegi. Setiap goa ditambang oleh lima sampai enam orang.

Goa penambangan itu memanjang di bawah tebing batu kapur Gunung Sadeng yang izin penambangannya dimiliki oleh sebuah CV. Terdapat puluhan perusahaan penambangan batu kapur dan batu hitam, juga semen di kawasan Gunung Sadeng.

Saat hari nahas terjadi, Senin (25/3/2019) pagi, sejumlah penambang belum bekerja di goa masing-masing.

"Karena genset mati, tidak bisa dihidupkan. Sementara genset itu untuk menghidupkan peralatan di lahan penambangan ini. Akhirnya kami menunggu di mulut-mulut goa," imbuh Miseno.

Meskipun penambang sudah datang sejak pukul 07.00 Wib, proses penambangan belum bisa dilakukan karena genset itu. Di sisi lain, ada longsoran kecil dari atas di lahan penambangan itu.

"Memang ada longsoran kecil-kecil. Kami melihat ada tanda-tanda longsoran itu. Akhirnya sambil kami menunggu genset, kami semuanya berada di halaman penambangan," imbuh Miseno.

Sekitar pukul 07.45 Wib, tiba-tiba longsoran besar terjadi. Longsoran itu membuat belasan pekerja tambang itu berhamburan. Tak berselang lama, longsoran besar kembali terjadi. Makin berhamburanlah pekerja yang ada di halaman areal pertambangan itu.

Miseno dan Sucipto juga berlari menyelamatkan diri.

"Saya dan adik juga berlari. Tetapi di titik sekitar pohon pisang itu, dia berhenti sambil memberi air botol air minum untuk dipegang karena dia akan mencabut duri dari kakinya. Dia bilang 'kang, iki cekelen, aku nyabut eri sik (mas, botol ini pegang, saya mau mencabut duri)'," tutur Sucipto.

Saat Sucipto berhenti, Miseno terus berlari. Setelah itulah, dia tidak lagi bisa menemukan adiknya. Sementara material batu kapur menumpuk di kawasan tersebut.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved