Minggu, 19 April 2026

Single Focus

Banyak Pasien Belum Sadar E-Health, Antre di Puskesmas dan Rumah Sakit Minimal 3 Jam

Penerapan e-Health sebagai solusi pengurangan antrian di rumah sakit (RS) dan puskesmas di Surabaya, ternyata belum efektif.

Editor: Parmin
SURYAOnline/ahmad zaimul haq
Seorang warga memanfaatkan layanan e-health untuk mendaftar ke RS Suwandhie. 

SURYA.co.id | SURABAYA -  Penerapan e-Health sebagai solusi pengurangan antrian di rumah sakit (RS) dan puskesmas di bawah pengelolaan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya, ternyata belum efektif. Ini terlihat dari masih banyaknya antrian yang bisa dibilang tak berkurang di setiap layanan kesehatan.

Belum terbukanya wawasan masyarakat Surabaya terhadap e-Health, diungkapkan Annisa Qurrota A'yun (22). Ibu dua anak ini mengaku, belum memahami proses e-Health yang sudah diterapkan di puskesmas dan RS.

"Ke puskesmas kan dekat, lebih enak datang langsung, kalau nomor antrian lama ya pulang dulu, dikira-kira saja," ujarnya, pekan lalu.

Bahkan, dalam kunjungannya di RSUD Soewandhie pada Januari 2019, ia belum melihat adanya antrian pada pelayanan yang ada.

"Nomor antrian nggak ada, yang ada dipanggil nama satu-satu. Kalau dokternya nggak lama, yang lama nunggu hasil laboratorium sampai berjam-jam," terang Annisa.

Warga Surabaya lainnya, Siti Aisyah, yang akan rutin menemani anaknya menjalani rawat jalan selama lima bulan ke depan, menuturkan, dirinya memilih antre berjam-jam di loket RS karena memang tidak paham cara penggunaan e-Health.

"Hape saya masih jadul, jadi nggak bisa dipakai untuk e-Health," kata perempuan yang antre selama hampir tujuh jam ini.
Tetapi, lanjut Siti, sebenarnya dirinya sudah mengetahui aplikasi e-Health.

Sementara, Kamtari Ningsih, pasien asli Surabaya lainnya mengaku, tidak tahu sama sekali mengenai aplikasi kesehatan ini.

"Saya belum pernah dengar tentang itu (e-Health). Karena memang jarang berobat ke sini. Hari ini, saya sudah antre sejak pukul 08.00 hingga 11.30," tuturnya.

Hal serupa diungkapkan oleh Romli dan Suadah, sepasang kerabat. "Kami tidak tahu sama sekali tentang e-Health, karena saya jarang jarang berobat. Kalau sakit paling hanya masuk angin, tidak sampai ke rumah sakit," pungkasnya.

Hemat waktu tenaga
Namun, beberapa pasien RSUD Dr M Soewandhie ada pula yang sudah menggunakan aplikasi yang memudahkan pendaftaran, sehingga memperoleh nomor antrean secara cepat ini.

Seperti, Setianto, pasien poli penyakit dalam yang mendapat informasi mengenai aplikasi e-Health dari media elektronik.

"Mempermudah pendaftaran, selain menghemat waktu dan tenaga saya. Dengan aplikasi ini, saya cukup mendaftarkan diri di rumah dan mendapat nomor antrean. Setelah itu, saya tinggal datang pada waktu yang ditentukan," paparnya.

Namun, ia menuturkan, nomor antrean yang dipanggil ketika di RS, tidak urut sesuai nomor yang telah ia dapatkan dari e-Health.

"Kalau di puskemas urut, di sini enggak. Di sini sesuai tumpukan," tegasnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved