Jumat, 10 April 2026

Sambang Kampung

Tim Tari dan Ludruk Kampung Ketandan Berharap Bisa Ikut Lomba Nasional

Sejak Balai Budaya Cak Markeso dibuka pada awal 2017, kegiatan seni Kampung Ketandan mulai digiatkan.

Penulis: Delya Octovie | Editor: Eben Haezer Panca
ist
Tim Tari dan Ludruk Kampung Ketandan, Surabaya 

SURYA.co.id | SURABAYA - Sejak Balai Budaya Cak Markeso dibuka pada awal 2017, kegiatan seni Kampung Ketandan mulai digiatkan.

Dewantari Putri Abadi (20), anggota karang taruna, mengatakan kegiatan yang paling sering dilakukan adalah menari, menggambar dan ludruk.

Kegiatan-kegiatan ini dilakukan rutin tiap Sabtu atau Minggu.

"Kalau tari itu biasanya anak-anak SD sampai SMP, sedangkan menggambar mulai dari anak-anak TK. Ludruk yang main karang taruna, jadi rata-rata SMA," ujarnya, Rabu (27/2/2019).

Mengajak anak-anak muda berkreasi di bidang seni tradisional memiliki kesulitan dan kemudahannya sendiri menurut mahasiswa yang akrab disapa Tari ini.

Apalagi, mereka tinggal di kampung yang cukup luas sehingga penyampaian informasi kurang maksimal.

"Susahnya kadang dari informasi, jadi kalau di kampung itu kan harus door-to-door, dari kartar tidak bisa satu-satu jadi tidak maksimal. Mudahnya, sekali diajak pasti mau karena gratis, apalagi tari tradisional ada mata pelajarannya di sekolah, dan menggambar ada fasilitasnya," jelasnya.

Namun, perjalanan tim tari serta ludruk Ketandan bukan tanpa lika-liku.

Permasalahan awal, kata Tari, adalah banyak warga yang ikut latihan tetapi tidak konsisten.

Pola ini mulai berkurang sejak kampung kerap menggelar pentas perayaan Hari Kemerdekaan, serta menyambut tamu yang tak jarang berasal dari luar negeri.

"Akhirnya banyak orang kampung yang melihat, sehingga banyak yang konsisten. Guru juga bilang kalau tiap minggu ikut dan bisa hafal satu tarian, itu bisa dipentaskan," terangnya.

Kendala kedua menurut Tari adalah uang.

Selama ini, biaya tampil di atas panggung rupanya ditanggung oleh warga sendiri, mulai dari sewa pakaian, make up, aksesoris, dan lain-lain.

Karenanya, Tari berharap mereka bisa tampil tak hanya di kota, tetapi juga tingkat nasional.

"Supaya pendapatan juga ada dengan ikut lomba-lomba nasional. Kemudian, kalau bisa guru yang disediakan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata minimal dua orang supaya tidak kewalahan," harapnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved