Selasa, 21 April 2026

Berita Trenggalek

Ari Mengeluarkan Uang Pribadi untuk Menebus Telur Penyu agar Tidak Digoreng

Pusat Konservasi Penyu Taman Kili-kili di Desa Wonocoyo, Kecamatan Panggul kini menjadi barometer konservasi penyu di Jawa Timur.

Penulis: David Yohanes | Editor: Parmin
foto: istimewa/Ermiko
MELEPAS TUKIK - Wakil Bupati Trenggalek, M Nur Arifin alias Gus Ipin (berkaca mata hitam) ikut melepaskan tukik di Pusat Konservasi Penyu Taman Kili-kili di Desa Wonocoyo, Kecamatan Panggul. Tempat konservasi penyu ini berkembang berbasis masyarakat desa setempat. 

SURYA.co.id | TRENGGALEK - Pusat Konservasi Penyu Taman Kili-kili di Desa Wonocoyo, Kecamatan Panggul kini menjadi barometer konservasi penyu di Jawa Timur. Setiap tahun ada ribuan tukik (anak penyu) yang dilepas ke laut.

Namun, di balik kesuksesan Taman Kili-kili, ada perjuangan panjang sosok yang tidak kenal lelah. Salah
satunya adalah Ari Gunawan (48), yang saat ini menjabat Ketua Kelompok Masyarakat Pengawas
(Pokmaswas) Taman Kili-kili.

Menurut Ari, awal mula teman konservasi penyu ini adalah kebetulan.

“Tahun 2010, sebenarnya kepala Desa Nglebeng yang cerita ke Pemerintah Kabupaten, bahwa di
wilayahnya banyak perburun penyu. Cerita itu kemudian ditanggapi Pemkab dengan sosialisasi,” kenang Ari.

Pemkab Trenggalek melalui Dinas Kelautan dan Perikanan saat itu, ingin menyadarkan masyarakat,
bahwa penyu adalah hewan dilindungi. Karena berada di satu garis pantai, perangkat desa dan warga
Desa Wonocoyo juga diundang. Saat itu Ari yang menjadi Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD)
juga diundang.

Ari mengaku, saat itu mengajak orang-orang yang menjadi pemburu penyu. Harapannya mereka sadar
dan balik menjadi ujung tombak pelestarian penyu. Setelah penyuluhan selama sehari semalam di
Trenggalek, Pemkab meminta setiap desa membentuk Pokmaswas.

“Saat itu belum tereskpose, bahwa di Kili-kili ada banyak penyu yang bertelur. Karena waktu itu yang
saya ajak orang-orang tua, mereka tidak mau repot dan menunjuk saya sebagai ketua,” tutur Ari.

Ari yang juga guru matematika di SMAN Panggul ini tidak ingin Pokmaswas ini sebatas formalitas. Ia
merekrut 11 orang bekas pencari penyu. Harapannya mereka ikut menyadarkan warga lainnya, agar
berhenti berburu penyu.

Namun relawan pertama yang terdiri dari orang-orang tua ini hanya bertahan dua tahun. Tahun 2013 Ari kembali merekrut relawan, kali ini 11 anak muda. Namun lagi-lagi relawan gelombang ke-2 ini hanya
bertahan setahun.

“Akhirnya saya rekrut lagi relawan gelombang ke-3, dan sekarang ada lima orang yang masih aktif.
Artinya setiap hari mereka bisa siaga di Taman Kili-kili,” lanjut Ari.

Para relawan yang tidak aktif bukan sepenuhnya mundur, sebab setiap saat mereka siap membantu jika ada kesibukan. Ari sadar sepenuhnya jika warga tidak aktif di Taman Kili-kili. Sebab selama ini tempat konservasi ini belum memberikan manfaat secara ekonomi bagi mereka.

“Pada awal merintis banyak pihak yang ingin konservasi ini gagal. Sebab selama ini penyu adalah
pendapatan alternatif warga, apalagi di saat paceklik,” ucap Ari.

Namun Ari bersama para relawan terus melakukan pendekatan persuasif. Tujuannya satu, menyadarkan pentingnya penyu bagi kelangsungan ekosistem laut. Apalagi ada pidana bagi yang menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memelihara dan menjual penyu berupa hukuman lima tahun penjara, dan denda Rp 50 juta.

Awalnya Ari harus mengeluarkan uang pribadi untuk menebus penyu atau telur dari warga. Namun
bukan dengan harga pasaran, melainkan lewat negosiasi.

“Misalnya ada warga yang dapat telur atau menangkap penyu, saya ganti dengan uang Rp 100.000.
Sekalian saya sampaikan ancaman hukumannya kalau menangkap penyu,” tutur Ari.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved