Pileg 2019

Warga Kampung Ketandan Surabaya Wadul soal Pendidikan SMA yang Mahal ke Caleg PSI

Masalah pendidikan SMA/SMK masih menjadi sumber masalah yang dikeluhkan warga kota Pahlawan.

Warga Kampung Ketandan Surabaya Wadul soal Pendidikan SMA yang Mahal ke Caleg PSI
surya.co.id/fatimatuz zahro
Caleg PSI untuk DPR RI dapil Surabaya Sidoarjo Dhimas Anugrah saat bersama warga Kampung Ketandan, Surabaya,  Kamis (24/1/2019).   

SURYA.CO.ID | SURABAYA - Masalah pendidikan SMA/SMK masih menjadi sumber masalah yang dikeluhkan warga kota Pahlawan.

Hal itu sebagaimana ditemukan oleh Caleg Partai Solidaritas Indonesia untuk DPR RI, dapil Jatim 1, nomor urut 2, Dhimas Anugrah, saat blusukan ke kampung Ketandan, Kamis (24/1/2019).

Banyak masyarakat yang mengeluhkan terutama masalah spp di jenjang SMA SMK yang masih berbayar.

"Mereka mengeluh, berat membayar uang sekolah SMK/SMA dan menuntut soal kebijakan anggaran pendidikan negara yang katanya sudah 20 persen namun nyatanya masih mebebani masyarakat," kata Dhimas.

Di kampung Ketandan juga ditemui anak putus sekolah tingkat SMA yang perlu dibantu untuk sekolah lagi. Warga sudah ajukan permintaan bantuan ke kelurahan tetapi belum mendapat respons hingga kini.

"Mereka warga Ketandan berharap pendidikan SMA/SMK swasta bisa digratiskan juga oleh Pemerintah," katanya.

Untuk itu menurutnya, situasi-situasi yang dihadapi warga Ketandan ini juga dialami dan dirasakan oleh banyak warga di tempat-tempat lain di Surabaya, Sidoarjo, maupun tempat lain di Indonesia.

Di sinilah peran pemerintah dituntut untuk cakap dan profesional lagi dalam mengelola biaya pendidikan.

"Anggaran 20 persen dalam APBN untuk pendidikan sebenarnya bisa untuk membuat biaya pendidikan SD hingha SMA/SMK kita gratis dan menaikkan gaji-gaji guru di tingkat yang lebih tinggi dari sekarang," ucapnya.

Faktor pendidikan ini, terang Dhimas kepada warga Ketandan, yang akan diperjuangkan olehnya di DPR RI.

Wakil rakyat di parlemen punya posisi yang kuat untuk meminta pemerintah memperbaiki faktor pendidikan di negara kita.

Keluhan warga Ketanda adalah masalah klasik yang menjadi cermin bagi kita semua agar segera meningkatan kualitas pengelolaan pendidikan di negara ini.

"Mari kita berkaca pada Finlandia, Islandia, atau Denmark, yang berhasil mengelola pendidikan di negara mereka secara profesional, Sehingga negara-negara Skandinavia itu menghasilkan para lulusan dengan kualitas yang sangat baik," pungkasnya.

Penulis: Fatimatuz Zahro
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved