Sambang Kampung Sidosermo
Manten Pegon, Tradisi Pengantin Surabaya masih Eksis di Kampung Sidosermo
Surabaya memiliki adat pernikahannya sendiri, yakni manten pegon. Satu di antara kampung yang masih melestarikan tradisi ini, adalah Sidosermo.
Penulis: Delya Octovie | Editor: Parmin
SURYA.co.id | SURABAYA - Warga Surabaya kerap kali menjadikan adat Jawa maupun modern sebagai acuan saat menggelar pesta pernikahan. Padahal, Surabaya memiliki adat pernikahannya sendiri, yakni manten pegon. Satu di antara kampung yang masih melestarikan tradisi ini, adalah Sidosermo.
Menurut Muhaimin, Sekretaris Kelurahan Sidosermo, manten pegon sudah dilakukan oleh nenek moyang mereka dan masih eksis hingga kini.
"Bahkan, baru dua minggu lalu ada yang menikah dengan tradisi manten pegon. Nanti juga saya sendiri kalau mantu, akan saya buat manten pegon," tuturnya ketika ditemui di Kantor Kelurahan Sidosermo, Rabu (16/1/2019).
Meski sudah banyak generasi baru, ia meyakini anak-anak muda Sidosermo telah memahami pentingnya melestarikan manten pegon, dan kebanyakan mau menggunakan tradisi tersebut ketika menikah.
"Kalau yang dari luar, ada yang tidak mau karena malu kan diarak begitu. Tapi biasanya dirayu ya akhirnya mau," imbuhnya.
Manten pegon ini dilakukan ketika pertemuan antara pengantin laki-laki dan pengantin perempuan.
Pengantin laki-laki akan diarak menuju rumah pengantin perempuan, sambil diiringi pencak silat dan hadrah yang melantunkan shalawat.
Pengantin umumnya diarak sambil jalan kaki, tetapi bagi yang memiliki harta berlebih, biasanya pengantin akan berkeliling naik kuda.
Sesampainya di rumah pengantin, pendekar pencak silat akan membawa ayam jago, yang nantinya diperebutkan oleh pendekar lainnya, tetapi berhasil dimenangkan oleh pendekar utama.
Ini sebagai simbol pengantin pria yang berhasil mendapatkan pengantin perempuan setelah menghadapi berbagai rintangan.
Setelah itu, kedua mempelai dipersilakan duduk di pelaminan, baru kemudian para tamu boleh memasuki tempat pernikahan.
"Makanya biasanya diadakan di rumah warga masing-masing. Diaraknya nanti kira-kira 400-500 meter dari tempat pelaminan," jelasnya.
Muhaimin mengakui manten pegon tak lagi diminati masyarakat Surabaya.
Meski begitu, ia mengatakan warga Sidosermo menyukai tradisi tersebut, dan menganggapnya sebagai ciri khas kampung, sehingga manten pegon disebut sebagai suatu kebanggaan.
"Keunikannya di situ. Jadi kalau tradisi ini dilaksanakan saat pernikahan, rasanya lebih afdol, lebih mantap, menunjukkan jati diri kami. Serasa ini acara sakral yang tidak akan terulang kembali," ujarnya.
