Kamis, 14 Mei 2026

Single Focus

Semangat Surabaya Menciptakan Motif-motif Batik Baru yang 'Suroboyo'

Surabaya tidak memiliki pakem untuk motif batik khasnya. Tetapi, upaya-upaya untuk melahirkan motif batik yang terasa Suroboyo terus didorong

Tayang:
Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Eben Haezer Panca
surabaya.tribunnews.com/habibur rohman
Rachmawati Basuki menunjukkan lembaran kain batik bermotif khas Surabaya 

SURYA.co.id | SURABAYA - Nusantara memiliki kekayaan batik yang beragam dari berbagai daerah. Berbagai daerah pun berlomba-lomba menciptakan motif-motif batik baru yang mencerminkan daerahnya masing-masing. 

Tak terkecuali kota Surabaya yang bersemangat mencari ide motif batik asli Suroboyo.

Meski tak sepopuler batik Solo atau Pekalongan, perkembangan batik Surabaya dewasa ini akan mampu mendongkrak usaha batik di Kota Surabaya.

Dulu, pembuatan batik dilakukan komunitas pembatik di tiap-tiap daerah di Kota Surabaya dengan corak khas masing-masing.

Tetapi, berkat pelatihan yang diadakan Pemkot Surabaya, pembuatan batik sudah menyebar skala rumahan.

Seperti dilakukan Sri Hartatik (72), pembatik di RW V Wisma Kedung Asem Indah, Kelurahan Kedung Baruk, Kecamatan Rungkut, Kota Surabaya.

Ia mengungkapkan, sudah menguasai berbagai motif batik yang ada di Kota Surabaya. Mulai Batik Suro Boyo dan Batik Semanggi yang paling khas Kota Surabaya.

"Karena merupakan batik tulis, pola dari motif ini terus berkembang. Tidak ada pakemnya, karena kerajinan tangan jadi tiap kain akan berbeda satu sama lain," urainya, pekan lalu.

Batik Suro Boyo, Batik Semanggi, menurutnya, kini sudah banyak dikuasai pembatik di Surabaya. Produksinya tidak selalu banyak. Bahkan, Tri membuatnya berdasarkan pesanan.

"Selain itu, 2015 oleh pak RW V saya didorong bikin batik dengan nama Kedung Asem. saat kampung membudidayakan buah naga. Pak RW minta nama batik jadi Bunakem (Buah Naga Kedung Asem),” tutur ibu empat anak ini.

Pasar batik Surabaya, Tri mengungkap, masih sangat luas. Meski semakin banyak perajin batik di kota ini.
Soal harga, ia membanderol kain batik biasa sekitar Rp 200.000 sampai Rp 250.000. Ke depan, Sri akan mengembangkan batiknya menjadi busana jadi.

Angkat Tempat Penting

Lain lagi yang dilakoni Rachmawati Basuki (38). Sekilas motif batik bikinannya seperti kain batik pada umumnya, namun jika diperhatikan lamat-lamat, ada bentuk tugu di kain itu.

“Saya mengombinasikan tema modern dengan kedaerahan. Seperti kain ini, bermotif Tugu Pahlawan. Jadi, saya ingin angkat tempat terpenting di Surabaya yang orang luar tidak tahu, ciri khas Surabaya,” ujar pembatik dengan teknik lukis, ketika ditemui di kediamannya di daerah Sukolilo Lor, Surabaya, Jumat (2/11).

Pemilik ArfiJoyo Gallery mengungkapkan, kebanyakan pembatik hanya menampilkan ikon Suro dan Boyo, serta semanggi.

Halaman 1/2
Tags
batik
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved