Pemilu 2019
Pengamat Politik Unair : Caleg Masih Berjarak dan Tak Ada Interaksi Bisa Berdampak Pada Hal Ini
Tak ada pergerakan kampanye yang menggoda warga untuk mengenalkan program dan visi mereka kepada masyarakat.
Penulis: Nuraini Faiq | Editor: Titis Jati Permata
SURYA.co.id | SURABAYA - Pemilu kurang enam bulan lagi. Namun gawe besar demokrasi rakyat Indonesia itu dirasa belum menampakkan greget.
Tak ada pergerakan kampanye yang menggoda warga untuk mengenalkan program dan visi mereka kepada masyarakat.
"Semoga situasi ini tidak membuat apatis warga kita untuk menyambut pesta demokrasi Pemilu April 2019 besok. Saya lihat tak ada greget gerakan dan manuver menarik dari para kandidat. Baik Pilpres maupun pileg," kata pengamat politik Unair Suko Widodo.
Pakar ilmu komunikasi politik ini mencermati hingga saat ini para kandidat belum turun secara masif dalam menyosialisasikan diri mereka sebagai wakil rakyat.
Mereka tidak turun menyapa dan terlibat dialog dengan warga.
Bagai mana tahu persoalan dan kebutuhan warga kalau masih berjarak dengan warga.
"Ini akan berdampak serius pada partisipasi demokrasi. Bukankah mulai 23 September 2018 hingga 13 April 2019 adalah masa kampanye," lanjutnya.
Selain ada dua kandidat capres, ada ratusan ribu caleg seluruh Indonesia dari 14 partai politik yang ditetapkan sebagai peserta pemilu.
Sesuai nomor urut partai, mereka adalah 1: Partai Kebangkitan Bangsa, 2: Partai Gerindra, 3: Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, 4: Partai Golkar, 5: Partai Nasdem, 6: Partai Garuda, 7: Partai Berkarya.
Kemudian 8: Partai Keadilan Sejahtera, 9: Partai Perindo, 10: Partai Persatuan Pembangunan, 11: Partai Solidaritas Indonesia, 12: Partai Amanat Nasional, 13: Partai Hanura, dan 14: Partai Demokrat.
Di berbagai wilayah, Dosen Unair ini mencermati kurang gregetnya kandidat untuk menggerakkan kampanye mereka.
Menurut Suko, bisa jadi hal ini terjadi karena persoalan pembiayaan.
"Para kandidat enggan turun dan hanya melakukan kampanye tipis-tipis guna efisiensi pendanaannya," tandas Sukowi, sapaan lain Suko Widodo.
Lambannya komunikasi dan interaksi kandidat dengan warga dalam masa kampanye ini bisa berpotensi maraknya Golput di masyarakat.
Seharusnya para caleg itu melakukan semacam survei.
"Survei terkait kecenderungan kebutuhan warga untuk menjadi pijakan program massif mereka. Survei ini bisa menjadikan kandidat dekat dengan publik," tandas Suko.
Sejauh ini, masyarakat nyaris tidak tahu mengenai visi dan misi para caleg.
Tak ada upaya kandidat caleg untuk menunjukkan visi misi mereka. Mari kita tunggu kiprah caleg yang konon mewakili rakyat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/baliho_20180926_141724.jpg)