Senin, 27 April 2026

Berita Malang Raya

Malang Raya Ingin Saingi Banyuwangi di Sektor Pariwisata

Kota Batu memiliki kelebihan pada sektor wisata buatan sementara Kabupaten Malang dengan wisata alam.

surya/hayu yudha prabowo
Dua pengunjung berfoto pada hamparan bunga Pikok di kawasan Bumiaji, Kota Batu, Selasa (11/9/2018). Selain untuk dijual, bunga yang banyak ditanam warga ini juga menyimpan potensi untuk dikembangkan menjadi wisata swafoto yang digemari kaum muda. 

SURYA.co.id | MALANG - Pengembangan sektor pariwisata di kawasan Malang Raya masih terus dipercepat.

Pasalnya potensi pariwisata yang ada di kawasan Malang Raya sejauh ini sangat menjanjikan.

Untuk itu, demi bisa mengembangkan potensi wisata tersebut, Kota Malang, Kabupaten Malang dan Kota Batu menjalin kerja sama untuk pengembangan sektor pariwisata tersebut.

Bahkan potensi wisata yang besar itu diharapkan bisa menjadi salah satu penggerak sektor ekonomi di kawasan Malang Raya.

Hal tersebut disampaikan Wali Kota Malang, Sutiaji saat memberikan sambutan dalam kegiatan Forum Ekonomi Malang Raya (FEM) 2018 di Ijen Suites, Selasa (16/10/2018).

Ia berharap perkembangan wisata di kawasan Malang Raya bisa jauh lebih pesat lagi, bahkan bisa menyaingi salah satu ikon pariwisata di Jawa Timur yaitu Banyuwangi.

"Kami di Malang ini punya 64 perguruan tinggi. Namun, Malang Raya masih kalah dengan Banyuwangi yang kini sudah menjadi kota pariwisata. Tentunya hal ini harus menjadi acuan untuk pengembangan pariwisata di kawasan Malang Raya agar tak kalah dengan Banyuwangi," ucapnya, Selasa (16/10/2018).

Dalam kesempatan yang sama, Sutiaji juga mengungkapkan komitmen tiga pemda untuk memunculkan brand baru yang lebih kuat.

Salah satunya adalah mengangkat sektor heritage yang menjadi ciri khas Malang Raya.

Sehingga ke depan ciri khas tersebut bisa menjadi pengingat bagi wisatawan yang berkunjung ke kota Malang.

"Ke depan kami ingin mengembalikan sisi heritage tersebut. Kalau untuk Kota Malang kami ingin mengembalikan daerah Kayutangan seperti dahulu lagi. Paling tidak kami ingin area tersebut menjadi ikon seperti layaknya Malioboro. Itulah salah satu komitmen kami dalam mengembangkan pariwisata di kota Malang," tambahnya.

Di sisi lain, Sutiaji menegaskan tetap menghargai diversitas atau perbedaan yang ada meskipun tiga kawasan di Malang Raya bekerja sama untuk pengembangan sektor pariwisata.

Seperti diketahui Kota Batu memiliki kelebihan pada sektor wisata buatan sementara Kabupaten Malang dengan wisata alam.

Demi bisa mengimbangi dua wilayah tersebut, maka Kota Malang mengembangkan kota heritage.

"Kami tidak ingin menjadi kota Batu ataupun Kabupaten Malang. Tetapi Kota Malang harus punya ciri khas tersendiri. Ketiga semua itu bergabung maka akan menjadi kekuatan luar biasa untuk sektor pariwisata di Malang Raya," imbuhnya.

Upaya pemkot Malang untuk membangun sektor pariwisata tersebut mendapat dukungan dari berbagai pihak.

Salah satunya adalah seperti doungkapkan oleh Plt Kepala Bank Indonesia (BI) kota Malang, Taufik Saleh.

Ia mengungkapkan penyelenggaraan Forum Ekonomi Malang Raya (FEM) itu merupakan salah satu bentuk komitmen dalam bersinergi mengembangkan pariwisata di Malang Raya dan sekitarnya.

"Upaya untuk mengangkat sektor pariwisata ini merupakan langkah yang tepat. Sebab, dengan berkembangnya sektor pariwisata, maka akan berdampak pada pertumbuhan sektor ekonomi," tuturnya.

Taufik meyakini potensi wisata yang ada di Malang Raya masih bisa digali lebih maksimal lagi.

Jika hal itu bisa dilakikan dengan baik, maka target Jawa Timur mendapat kunjungan 1 juta wisman pada 2018 akan bisa dicapai.

"Ini juga menjadi kesempatan bagi para pelaku UMKM untuk bisa mendapatkan peluang. Jadi bukan hanya masalah destinasi wisata sata yang berkembang. Sektor UMKM juga bisa dimaksimalkan lagi," tambahnya.

Sementara itu, ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ESAI) Malang, Candra Fajri Ananda manambahkan, komitmen yang sudah dilakukan tiga wilayah di Malang Raya tersebut akan sangat berpengaruh terhadap industri pariwisata.

"Saat ini sektor pariwisata memang bisa menjadi unggulan. Tetapi pengelolaanya harus benar-benar dimaksimalkan. Termasuk juga melibatkan penduduk sekitar. Jangan sampai perkembangan sektor pariwisata justru membuat penduduk asli daerah tersebut tergusur," tandasnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved