Selasa, 19 Mei 2026

Berita Bisnis

Perkuat Modal Kerja, Garudafood Lakukan IPO. Harga Perdana Rp 1.284 per Saham

PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk melakukan pencatatan saham perdana atau Initial Public Offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia, Rabu (10/10).

Tayang:
ist
Komisaris Utama PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk (GOOD) Sudhamek Agoeng Soenjoto (tengah) bersama Direktur Utama Hardianto Atmadja (ketiga kanan), Direktur Fransiskus Johny (kedua kanan), Direktur Independen Rudy Brigianto (kanan), Direktur Johannes Setiadharma (ketiga kiri) disaksikan oleh Direktur PT Bursa Efek Indonesia Laksono Widio Widodo (kedua kiri), menekan layar sentuh pembukaan perdagangan saham perdana PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk di Bursa Efek Indonesia, Rabu (10/10/2018). 

Laporan wartawan TribunJatim.com, Arie Noer Rachmawati

SURYA.co.id | SURABAYA - Perusahaan yang bergerak di sektor makanan dan minuman, PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk melakukan pencatatan saham perdana atau Initial Public Offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia, Rabu (10/10/2018).

Menurut Direktur Utama Garudafood, Hardianto Atmadja, langkah ini adalah bagian dari rencana Garudafood untuk memperkuat modal kerja.

Modal kerja itu akan dipakai untuk menjalankan ekspansi bisnis sebagai strategi bisnis perusahaan dalam jangka panjang.

Dari IPO itu, emiten berkode GOOD ini memperoleh dana untuk meningkatkan modal saham sebesar Rp 979,48 miliar dengan harga perdana sahamnya ditetapkan sebesar Rp 1.284 per saham.

"Kami berterima kasih atas dukungan dan kerja sama baik dari semua pihak. Kami menjadi emiten ke-44 yang IPO pada tahun 2018 di Bursa Efek Indonesia," ungkapnya pada keterangan resminya.

Garudafood menerbitkan saham baru sebanyak 762,84 juta atau 10,34 persen dari modal termasuk saham yang diterbitkan kepada Pelican Company Ltd. sebanyak 727,84 juta saham.

Hal ini merupakan dalam rangka pelaksanaan konversi Mandatory Convertible Bond (MCB).

Bersamaan dalam IPO ini juga, Garudafood mengadakan Program Alokasi Saham Karyawan (Employee Stock Allocationatau 'ESA') sebanyak-banyaknya 2,8 juta saham.

Hardianto menyebutkan, IPO ini akan menjadi momentum positif bagi Garudafood untuk terus tumbuh secara berkelanjutan.

Yakni, dengan mengoptimalkan peluang pasar yang begitu besar, baik di Indonesia maupun ASEAN.

"IPO juga akan membawa standar baru dalam tata kelola perusahaan yang baik yang menjadi kebutuhan perusahaan modern," imbuhnya.

Adapun selama periode 4 bulan hingga April 2018, penjualan Garudafood tercatat naik 16 persen menjadi Rp 2,9 triliun dari Rp 2,5 triliun untuk periode yang sama pada 2017.

Sementara itu, laba bersih perusahaan juga tumbuh 136 persen menjadi Rp 222,5 miliar selama periode 4 bulan hingga April 2018 dibandingkan periode yang sama di tahun 2017 sebesar Rp 94,5 miliar.

Serta, total aset Garudafood per 30 April 2018 tercatat Rp 4,3triliun atau tumbuh 22,8 persen dibandingkan posisi per 31 Desember 2017 sebesar Rp 3,5 triliun.

Lebih jauh, selama periode penawaran umum yang dilaksanakan 2-4 Oktober 2018, pemesanan saham Garudafood tercatat mengalami kelebihan permintaan hingga enam kali dari total saham yang ditawarkan.

Menurut Director Head of Investment Banking PT Indo Premier Sekuritas, Rayendra L. Tobing, hal tersebut mengindikasikan kepercayaan publik yang besar terhadap kinerja Garudafood dan prospek usaha ke depannya.

"Saham Garudafood diharapkan akan menjadi satu di antara saham konsumer pilihan yang menarik untuk berinvestasi," katanya melalui keterangan resminya, Rabu (10/10/2018).

Dia mengatakan, secara industri, prospek bisnis makanan dan minuman di Indonesia sangat potensial seiring pertumbuhan populasi dan daya beli penduduk kelas menengah di Indonesia.

Nielsen, perusahaan riset global, mencatat pada kuartal I 2018, kuantitas pasar makanan ringan (snack) di Indonesia tumbuh 8 persen, sedangkan khusus untuk pasar biskuit tumbuh sebesar 5 persen.

"Industri makanan dan minuman diproyeksi masih menjadi salah satu sektor andalan penopang pertumbuhan manufaktur dan ekonomi nasional ke depannya," tuturnya.

Kementerian Perindustrian mencatat sumbangan industri makanan dan minuman kepada PDB industri non-migas mencapai 34,95 persen pada triwulan III tahun 2017.

Hasil kinerja ini menjadikan sektor tersebut kontributor PDB industri terbesar dibanding subsektor lainnya.

Direktur dan Corporate Secretary Garudafood, Paulus Tedjosutikno menambahkan, pihaknya berharap kinerja positif Garudafood akan memberikan nilai tambah bagi investor dan stakeholders.

"Garudafood akan terus berupaya menjaga pertumbuhan bisnis yang sehat dan tetap mengacu pada prinsip tata kelola perusahaan yang baik agar dapat memberikan manfaat optimal bagi seluruh stakeholders," ujarnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved