Senin, 13 April 2026

CPNS 2018

Kisah Perjuangan GTT Jadi PNS, Dwi Lulusan S2 Digaji Rp 700 Ribu Per Bulan

Guru honorer perwakilan dari Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor, Dwi (26) ternyata lulusan S2 Magister Pendidikan (M.Pd).

Editor: Iksan Fauzi
Setkab.go.id
CPNS 2018 

SURYA.co.id | JAKARTA ‑ Guru honorer perwakilan dari Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor, Dwi (26) ternyata lulusan S2 Magister Pendidikan (M.Pd).

Dwi mengaku sudah delapan tahun lamanya mengajar di sebuah Sekolah Dasar (SD) di Ciomas sebagai guru honorer.

Oleh karena itu Dwi ikut dalam aksi unjuk rasa bela guru honorer di Lapangan Tegar Beriman, Cibinong, Kabupaten Bogor, bersama ribuan guru honorer lainnya kemarin.

"Kita kan bertahun‑tahun mengabdi, kebanyakan di sini belum mendapatkan SK dari bupati, dan kita juga masih honor semua," kata Dwi.

Baca: GTT se-Kabupaten Malang Demo dan Menangis di Gedung DPRD Minta Nasibnya Diperhatikan

Selain itu, Dwi mengatakan  upah yang diterima setiap bulannya sebagai pengajar honorer hanya Rp 700 ribu.

Baginya, angka tersebut sangat tidak relevan bagi para guru honorer yang sudah berkeluarga dan punya anak.

"Upah per bulan, itu di bawah satu juta, kalau saya pribadi Rp 700 ribu. Kadang‑kadang ada yang Rp 500 ribu, ada yang Rp 400 ribu pokoknya di bawah Rp 1 juta. Kalau saya pribadi kan belum nikah, kebanyakan yang udah nikah juga di bawah satu juta, sudah banyak," kata Dwi.

Ia mengatakan, bahwa bagi para guru honorer yang membutuhkan pemasukan lebih terpaksa mencari cara untuk mendapat penghasilan tambahan.

Dwi mengaku belum pernah mengikuti seleksi CPNS, terlebih pengangkatan guru honorer cukup sulit.

"Ketika saya S1, katanya 2015 ada pengangkatan, tapi nyatanya belum ada pengangkatan, sampai sekarang saya S2 belum ada pengangkatan lagi, maka saya sekarang ikut aksi ini, saya juga enggak mau jadi guru honor terus," kata Dwi. 

Jadi Pengamen

Selama 26 tahun lamanya, Igo Riyanto (46) berprofesi sebagai guru honorer di SMP Negeri 1 Cigombong, Kabupaten Bogor.

Bapak empat anak yang kerap dipanggil 'Pak Igo' oleh muridnya ini mengaku masih sangat ingat bahwa saat ia mulai menjadi tenaga pengajar honorer rambutnya masih belum memutih.

Ia juga mengaku bahwa untuk membiayai keluarga termasuk empat anaknya, ia harus bekerja sampingan.

Sebab upah sebagai guru honorer dari mengajar di sekolah, kata dia, tak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved