Citizen Reporter
Belajar Sejarah dari Festival Tawangsari Kampoeng Sedjarah 2018
Nuansa tempo dulu itu merupakan bagian dari Festival Tawangsari Kampoeng Sedjarah 2018, yang dimulai Jumat (14/9/2018)-Minggu (16/9/2018).
SURYA.co.id | LOWOKWARU - Suasana tempo dulu, terasa pada salah satu sudut Kampung Tawangsari, yang terletak di Kelurahan Sumbersari, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang.
Nuansa tempo dulu itu merupakan bagian dari Festival Tawangsari Kampoeng Sedjarah 2018, yang dimulai Jumat (14/9/2018) hingga Minggu (16/9/2018).
Selama tiga hari disajikan penampilan kesenian daerah, pemutaran film sejarah, teater, musik keroncong, makanan dan jajanan tempo dulu, serta diskusi sejarah oleh pakar sejarah Kota Malang.
Baca: RS Al Irsyad Surabaya Melakukan Sistem Jemput Bola Mata Lansia
Dalam diskusi yang diselenggarakan Sabtu (15/9/2018), Nurhadi yang juga dosen di Universitas Negeri Malang (UM) menyampaikan materi mengenai perjuangan Divisi Untung Suropati beserta peran para pemuda yang tergabung dalam Tentara Pelajar Republik Indonesia.
“Para pemuda yang berjuang di Jalan Salak itu patut kita teladani keberaniannya. Kita yang sudah merdeka, jangan sampai lupa mengisi kemerdekaan dengan belajar untuk membangun bangsa dan negara,” pesan Nurhadi.
Syah Antoni, Ketua Panitia Festival Tawangsari Kampoeng Sedjarah 2018 menuturkan, kegiatan yang sudah mencapai tahun kedua itu bertujuan mengenalkan sejarah kepada masyarakat.
“Kegiatan ini merupakan salah satu cara agar kita tetap mengingat dan mengilhami perjuangan para pahlawan di Kota Malang,” ujar Syah Antoni.
Drama teatrikal yang sudah ditunggu-tunggu warga tersaji pada hari ketiga. Acara itu sekaligus menjadi puncak penutupan.
Drama teatrikal mengangkat tema Perjuangan Mayor Hamid Rusdi. Beberapa kali suara ledakan terdengar dan membuat warga yang datang seolah dibawa dalam suasana perang kemerdekaan.
Joe Pradana, sejarwan dari Malang, yang juga hadir dalam penutupan kegiatan itu ikut memberikan tanggapan positif.
“Inilah salah satu cara kreatif dan inovatif dalam belajar sejarah. Lewat suguhan drama teatrikal, setidaknya bisa menambah wawasan sejarah kita tentang peran Mayor Hamid Rusdi dan pasukannya yang begitu cerdik dalam melahirkan bahasa sandi berupa Osob Kiwalan,” kata Joe.
Yang belum sempat mengikuti jalannya Festival Tawangsari Kampoeng Sedjarah 2018, jangan berkecil hati, karena tahun depan masih akan diselenggarakan lagi.
Setiap saat, orang juga bisa datang ke Museum Reenactor Ngalam yang terletak di belakang Kantor Kelurahan Sumbersari untuk belajar sejarah.
Assiddiq Ilham Maulana
Siswa MAN 2 Kota Malang
assidiiq.maulana@gmail.com
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/malang-tempoe-doeloe_20180920_162931.jpg)