Sabtu, 11 April 2026

Berita Jawa Timur

Pacu Produktivitas Jagung di Madura, Khofifah Akan Manfaatkan Program Pemerintah Australia

Gubernur Jatim terpilih, Khofifah Indar Parawansa akan memanfaatkan program pemerintah Australia untuk memacu produktivitas jagung di Madura.

Penulis: Fatimatuz Zahro | Editor: Eben Haezer Panca
surya/fatimatuz zahro
Gubernur Jawa Timur terpilih Khofifah Indar Parawansa 

SURYA.co.id | SURABAYA - Kondisi produktivitas pertanian di pulau Madura masih jauh di bawah rata-rata nasional. Khususnya untuk produktivitas tanaman jagung.

Hal ini menjadi perhatian khusus Gubernur Jawa Timur terpilih periode 2019-2024 Khofifah Indar Parawansa. Ia mengatakan saat ini produktivitas pertanian jagung di Madura hanya berkirsa 1 hingga 2 ton per hektarnya.

Padahal rata-rata nasional untuk jagung produktivitasnya sekitar 9 ton per hektar. Sedangkan untuk rerata produktivitas tanaman jagung di Jawa Timur 5,4 ton per hektar. Oleh sebab itu ia ingin serius bisa meningkatkan produktivitas jagung di pulau Madura.

Awal pekan ini, Khofifah mengaku baru saja bertemu dengan Konsul Jenderal Australia untuk sinkronisasi program peningkatan produktivitas pertanian jagung di Madura.

"Saya dapat informasi tentang progran PRISMA di mana melakukan pendampingan untuk peningkatan produktivitas jagung di Madura. Ternyata ada proses penguatan yang hrus dilakukan untuk meningkatkan produktivas jagung di Madura per hektarnya," kata Khofifah, Rabu (19/9/2018).

Pertemuan dengan Konjen Australia tersebut merupakan tindak lanjut pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Australia dengan Khofifah beberapa waktu yang lalu.

"Saya pastikan akan ada pemetaan detail masyarakat mana di Madura yang menanam jagung supaya bisa dapat intervensi program," kata Khofifah.

Baca: Bantu Kembangkan Pertanian Kawasan Timur, Pemerintah Australia Akan Kucurkan Dana Rp 978,5 Miliar

Wanita yang juga Ketua Umum PP Muslimat NU ini menegaskan program dari Australia itu sempat membantu persawahan di Sumenep dan bisa meningkatkan hasil panen sampai 3,3 ton per hektar.

Menurut Khofifah, untuk wilayah Madura ada sejumlah problem yang menghambat peningkatan produksi panen jagung. Yang pertama adalah problem bibit.

"Kalau di Pamekasan problemnya adalah masa panen. Habis paneen pagi untuk ditanami jagung butuh waktu. Sebetulnya nutut tapi mereka harus menanam tembakau, sehingga nggak nutut," imbuh Khofifah.

Sehingga ke depan harus ada penanganan. Ia ingin membangun peningkatan produktivitas jagung per hektar di Madura minimal bisa sama dengan rata-rata Jawa Timur bahkan hingga menyamai rerata nasional.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved