Jumat, 17 April 2026

Berita Surabaya

Didukung Teknologi, Tunanetra Sugi Hermanto Bisa Jadi Jurnalis Warga

Teknologi memperkecil kesenjangan antara difabel dan nondifabel. Apa yang dulu tak dapat dilakukan, kini dapat dilakukan meski prosesnya tak mudah.

Penulis: Eben Haezer Panca | Editor: Parmin
surabaya.tribunnews.com/eben haezer
Sugi Hermanto (duduk kanan) saat menceritakan pengalamannya sebagai jurnalis warga di Surabaya, Minggu, 8 September 2018 malam. 

Teknologi semakin memperkecil kesenjangan antara difabel dan nondifabel.  Apa yang dulu tidak dapat dilakukan, kini dapat dilakukan meski prosesnya tidak selalu mudah.

SURYA.co.id | SURABAYA – Sambil memegang handycam, Sugi Hermanto duduk di kursi kayu yang dipasang di event space C2O Library and Collabtive, Jl Dokter Cipto no.22, Surabaya, Minggu (9/9/2018) malam.

Hari itu, Sugi didapuk menjadi ‘bintang tamu’ acara Nobar Karya dan Diskusi pergulatan jurnalis warga penyandang tunanetra. Acara digelar Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Surabaya itu diberi bertajuk “Aku Berkarya Dalam Gelap”.

Di depannya, puluhan orang, lelaki dan perempuan, duduk lesehan di atas tikar rotan. Dengan seksama, orang-orang itu menyimak sejumlah pengalaman yang dituturkan oleh Sugi selama menjadi citizen journalist atau pewarta warga.

Sebenarnya tak ada yang istimewa dari menjadi pewarta warga. Namun yang membuat Sugi istimewa dan menjadi magnet di malam itu adalah karena dia seorang tunanetra.

Meski tunanetra, namun Sugi yang kelahiran 18 Oktober 1983 telah menghasilkan sejumlah video jurnalistik. Video itu diunggahnya di Channel Youtube Mlaku Mlaku.

“Saya mulai buat video jurnalis warga sejak April 2018 kalau nggak salah. Pokoknya sebelum bom Surabaya kemarin. Saya dilatih mas Andreas, wartawan TV di Surabaya,” ujar Sugi.

Ketunanetraan Sugi bukan berarti dia sama sekali tak bisa melihat. Dia mengalami ketunanetraan jenis low vision.

Dalam kondisi demikian, untuk melihat sesuatu, dia harus benar-benar mendekat sampai jarak yang paling ekstrim.

“Kalau lihat hasil gambar di handycam, mata saya kadang sampai hampir nempel dengan LCD. Begitu juga kalau ngedit video, jarak antara mata dengan laptop ini Cuma beberapa sentimeter saja. Jadi tidak bisa santai seperti editor video kebanyakan. Untuk ngedit satu video, butuh waktu 2 sampai 3 hari, bahkan sampai seminggu,” tuturnya.

Pria kelahiran Surabaya ini mengatakan, untuk mengenali sebuah tulisan yang akan dia ambil gambarnya, dia harus mendekat dulu dan memotretnya menggunakan ponsel. Gambar hasilnya, kemudian dia perbesar cukup ekstrim sehingga dapat terbaca.

“Papan nama jalan itu kan tidak bisa terbaca untuk saya. Jadi biar tahu apa bacanya, saya potret dulu pakai HP, lalu hasilnya diperbesar,” sambung.

Dukungan Teknologi

Selain karena memang kepincut, Sugi mengatakan bahwa alasannya bergelut di dunia jurnalisme warga karena minimnya ruang yang tersedia di media massa untuk orang-orang disabilitas.

Karena itu, selain membuat video wisata kota Surabaya, dia juga ingin membuat video yang berkisah tentang belum dipenuhinya hak-hak bagi para disabilitas.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved