Minggu, 19 April 2026

Berita Surabaya

Republik Ludruk Surabaya, Hadir untuk Forum Anak Muda Pecinta Ludruk

Esthi Susanti Hudiono membangun organisasi modern, serta ludruk berjaringan, yakni Republik Ludruk Surabaya (RLS).

Penulis: Delya Octovie | Editor: Parmin
surya/delya octovie
Esti Susanti Hudiono (kaus orenge) foto bersama usai peluncuran Republik Ludruk Surabaya (RLS) di Kantor Harian Surya, Kamis (23/8/2018). 

SURYA.co.id | SURABAYA – Ludruk tak lagi kehilangan penonton. Cita-cita tersebut mustahil bila diungkapkan beberapa tahun lalu, hingga komunitas ludruk Luntas, Ludrukan Nom-noman Tjap Arek Soeroboio mengembalikan angan tersebut lewat pementasan sukses mereka.

Beberapa kali, Luntas berhasil mengadakan pementasan ramai penonton setidaknya mengisi 120 kursi pada hari Sabtu, dan pementasan dilakukan tanpa campur tangan pemerintah.

“Pagelaran ludruk bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surabaya, itu penontonnya selalu sedikit. Lalu kami coba menggencarkan promosi lewat media sosial, ternyata kami mampu menghadirkan lebih dari 100 penonton,"jelas Koordinator Luntas, Robert Bayonet.

Dia awalnya pesimis 100 itu hanya satu-dua kali, tetapi sudah tiga tahun berjalan, setiap Sabtu penonton Luntas mencapai 120 orang.

Keberhasilan Luntas membawa harapan pada performer ludruk Surabaya bahwa akhirnya mereka mengetahui cara menarik masyarakat utamanya anak muda.

Posibilitas ini membawa Ketua serta Direktur Eksekutif Yayasan Hotline Surabaya Esthi Susanti Hudiono membangun organisasi modern, serta ludruk berjaringan, yakni Republik Ludruk Surabaya (RLS).

Peluncuran RLS dilakukan di kantor Harian Surya, Rungkut Industri, Surabaya, Kamis (23/8/2018).

“Fokus kami ke anak muda, dibantu dengan sekolah-sekolah seperti SMK Dr. Soetomo, Kampung Parikan Gadukan RW IV, kemudian anak-anak muda Robert, Ponco, dan Ipul. Tujuannya agar ludruk bisa hidup dengan bon-bonan pemain, jadi bisa saling mendukung,” tutur Esthi.

Perempuan yang sempat menjadi jurnalis tersebut ingin RLS menjadi forum pecinta ludruk anak muda.

Namun, pemula-pemula ludruk ini nantinya tak sekadar diajarkan bermain ludruk, tetapi juga dididik dibidang seni, sosial, dan entrepreneur.

Mereka akan mendapat pengajaran dari ahlinya, soal pemasaran lewat media sosial, video editing, promosi event, hingga pengerahan massa untuk penonton, seperti yang telah dilakukan oleh Luntas.

“Ini membuktikan kalau bukan salah ludruknya (ludruk minim penonton), tetapi salah promosinya, karena orang hanya bisa melihat jadwal ludruk di Balai Pemuda atau Taman Budaya, sedangkan masyarakat umum sobo-nya tidak ke sana kecuali acara-acara tertentu,” ujar Robert.

Skill-skill itu diharapkan bisa menjadi bekal bagi anak-anak muda, sehingga tak hanya belajar ludruk saja di RLS, tetapi mendapat keahlian di bidang lain, sehingga mereka bisa memasuki bidang pekerjaan atau seni dalam arti lebih luas, tak hanya ludruk.

Esthi menyebut, Luntas memberi sentuhan-sentuhan yang ternyata banyak diminati anak muda, seperti kombinasi musik rock dan dangdut yang diselipkan saat tampil, serta gaya promosi yang menarik di media sosial.

Ia ingin menularkan semangat Luntas ke anak-anak muda Kota Pahlawan agar ludruk bisa bersaing dengan kesenian modern, tanpa bergantung pemerintah. Penularan ini akan dilakukan dengan cara menjemput bola.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved