Selasa, 7 April 2026

Sambang Kampung

Menengok Kampung Lidah Buaya di Simolawang Surabaya

Di Surabaya ada kampung yang terkenal dengan sebutan kampung Lidah Buaya. Yuk, tengok kesana...

surabaya.tribunnews.com/danendra kusumawardana
Muhammad Anis (tengah), Cut Kumala Sari (kiri) dan Tuti Martiani sedang memetik lidah buaya yang nantinya akan diolah menjadi minuman, Rabu (4/7). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Saat memasuki kawasan kampung Simolawang gang buntu, RT 1 RW 9 Kelurahan dan Kecamatan Simokerto, puluhan tanaman berjajar menghiasi halaman depan rumah warga.

Beberapa tembok dan jalan dilukis menggunakan cat minyak bermotif tribal untuk memperindah kampung.

Setelah berjalan lebih dalam memasuki dan mengamati kampung, di setiap halaman depan rumah warga pasti akan ditemui tanaman lidah buaya. 

"Lidah buaya adalah ikon kampung kami. Kami menjuluki sebagai kampung lidah buaya. Setiap warga wajib menanamnya," kata Muhammad Anis, sekretaris RW 9.

Anis menceritakan, warga mulai diwajibkan menanam Lidah buaya tahun 2014 lalu. Pemilihan ikon kampung dipilih dari hasil musyawarah bersama. Warga menilai lidah buaya memiliki khasiat tinggi dan mudah tumbuh.

"Perawatannya tidak susah. Lidah buaya juga punya banyak manfaat antara lain, penyubur rambut dan pereda panas dalam," katanya.

Selain lidah buaya, Anis juga mewajibkan warga menanam tumbuhan lain.

"Jika hanya menanam lidah buaya saja sepertinya tidak akan mengubah image gersang pada kampung kami. Saya juga mewajibkan warga untuk menanam jenis tanaman lain, seperti tanaman lidah mertua untuk menyerap polusi, palm dan mangga untuk melindungi rumah dari terpaan sinar matahari," katanya.

Menurut Anis, antusias warga sangat besar untuk mengubah image kampung yang tandus. Setiap harinya warga membeli sepuluh jenis tanaman untuk menghijaukan kampung. Empat tahun berselang, sudah ada 100 jenis tananam yang tumbuh di pemukimannya.

"Setiap hari kami bisa mengumpulkan sepuluh tanaman. Kami menanam tumbuhan tersebut saat kerja bakti rutin hari Minggu," terangnya.

Ia menyebutkan, pembelian tanaman dilakukan oleh warga secara kolektif. Anis mengumpulkan dana penghijauan saat pertemuan warga.

"Saya tidak mematok harga. Seikhlasnya saja, berapun saya terima," ungkapnya.

Agar pengeluaran tidak membengkak, warga disarankan untuk membeli tanaman jenis lain yang mudah dibibitkan dan tumbuh.

"Warga membeli tanaman secara kolektif. Saat itulah kesadaran akan kebersihan dan keindahan lingkungan tumbuh. Mereka saya sarankan untuk membeli tanaman yang mudah tumbuh seperti cabai dan kunyit," terangnya.

Cut Kumala Sari, salah satu warga mengaku senang karena kampungya terasa lebih sejuk.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved