Sambang Kampung

Di Simolawang, Warga Olah 3 Jenis Tanaman Jadi Minuman

Di kampung Simolawang, warga berhasil mengolah 3 jenis tanaman menjadi minuman olahan yang bernilai jual. Apa saja?

Di Simolawang, Warga Olah 3 Jenis Tanaman Jadi Minuman
surabaya.tribunnews.com/danendra kusumawardana
Muhammad Anis (tengah), Cut Kumala Sari (kiri) dan Tuti Martiani sedang memetik lidah buaya yang nantinya akan diolah menjadi minuman, Rabu (4/7). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Warga Simolawang gang buntu RT 1 RW 9 Kelurahan dan Kecamatan Simokerto memanfaatkan tiga jenis tanaman yang tumbuh di kampungnya untuk diolah menjadi minuman. Tanaman itu adalah lidah buaya, kunyit, dan kayu manis.

Salah satu warga, Cut Kumala Sari mengatakan, kepiawaian para warga mengolah Lidah buaya, kunyit dan kayu manis menjadi minuman didapat secara otodidak. Mereka mempelajari cara pengolahan melalui youtube.

"Setiap minggu, ibu-ibu PKK terutama warga tetap yang berjumlah 15 orang mengolah ketiga jenis tanaman tersebut. Kami belajar mengolah lewat Youtube," kata Cut.

Ia pun menjelaskan, pengolahan lidah buaya harus melalui tiga proses perebusan agar menghilangkan getahnya.

"Getah dari lidah buaya mengeluarkan rasa pahit. Makanya harus dibersihkan dengan cara merebus sebanyak 3 kali. Kalau pahit kan tidak enak," terang Cut.

Sedangkan untuk sinom, ia mengungkapkan pengolahannya tidak selama minuman lidah buaya. Kunyit sebagai bahan dasar diparut dan direbus hanya sekali saja. Cut juga menyebutkan produk sinom yang diberi nama HWE memeliki keunikan tersendiri.

"Sinom yang saya buat ada tambahan kayu manisnya untuk menghilangkan aroma dari kunyit yang lumayan menyengat," jelasnya.

Ia menambahkan, setiap satu pot lidah buaya dapat dibuat olahan minuman sebanyak delapan botol ukuran sedang. Sedangkan untuk sinom setiap satu botol sinom membutuhkan sekira 6 kunyit.

"Untuk sinom sudah dijual keluar. Harga perbotolnya Rp 7.000. Kalau lidah buaya hanya dikonsumsi untuk warga," lanjut wanita 2 anak itu.

Rencananya, warga akan menjual produk minuman hasil dari olahan lidah buaya.

Namun hal itu tidak mudah mengingat keterbatasan lahan. 

"Selain itu, banyaknya warga yang memetik lidah buaya, keberadaannya makin sedikit. Dan juga, karena memiliki kesibukan masing-masing lidah buaya lupa untuk dibudidaya. Kedepan kami akan menggalakkan penanaman kembali," pungkasnya. 

Baca: Menengok Kampung Lidah Buaya di Simolawang Surabaya

Penulis: Danendra Kusumawardana
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved