Rabu, 29 April 2026

Sambang Kampung

Menengok Kampung Kelor di Jemur Wonosari Surabaya

Di Surabaya ada sebuah kampung yang dapat julukan sebagai Kampung Kelor. mari tengok ke sana.

Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Eben Haezer Panca

SURYA.co.id | SURABAYA – Setiap kampung di Kota Surabaya memiliki potensi dan keunggulan yang unik. Sepeti di RT 6 RW 04, kelurahan Jemur Wonosari, Kecamatan Wonocolo, yang dijuluki Kampung Kelor.

Julukan ini berasal sejak satu setengah tahun lalu warga mulai aktif membudidayakan tanaman Kelor yang memang sudah dimiliki sejumlah warga. Kemudahan budidaya tanaman kelor ini membuat warga kerap menjadikannya sebagai pagar rumah.

“Ada warga yang browsing manfaat daun Kelor itu banyak, makanya warga saya minta menanamnya. Ada lahan kosong juga dipagari tanaman Kelor kemudian djadikan lahan Gizi ” urainya.

Melihat banyaknya warga yang memiliki tanaman Kelor, Yitno Ramli, ketua RT 6 RW 04, kelurahan Jemur Wonosari Kecamatan Wonocolo memutuskan untuk memberlakukan kepemilikan daun Kelor di setiap rumah.

Dengan jumlah warga sebanyak 150 KK, maka sangat mudah menemukan tanaman kelor yang menjulang tinggi ataupun dalam pot di setiap rumah warga.

“Awalnya ya banyak yang mengeluh di desa sudah banyak ngapain di sini ditanam, tetapi setelah tahu manfaatnya, warga akhirnya mau menanamnya bersama,”lanjutnya.

Usai memiliki banyak pasokan daun Kelor, Yitno mulai memacu ibu-ibu yang tergabung dalam Dasawisma untuk bisa berinovasi dengan daun Kelor.

Bukan sekedar dijadikan sayur sebagai ganti bayam. Tetapi bisa dijadikan produk yang lebih bervariasi. Hingga akhirnya warga bisa membuat teh hingga kerupuk berbahan daun Kelor.

“Sekarang setiap ada tamu di kampung pasti pingin oleh-oleh teh Daun Kelor. Kami masih memprosesnya secara sederhana,” urainya.

Mahruroh (55), anggota Dasawisma mengungkapkan, untuk membuat teh daun kelor tidak sulit bagi ibu rumah tangga. Melalui pelatihan singkat di kelurahan dan salah satu ibu Dasawisma yang sekolah di bidang pertanian, kini semua warga bisa membuat teh ini.

“Daun Kelor diambil dan ditiriskan tanpa sinar matahari di tempeh, saat sudah rontok kering nanti disangrai, baru dikemas,” ujarnya.

Cita rasa teh yang mirip dengan teh pada umumnya ini membuat banyak warga kerap membuatnya. Bahkan tak jarang mendapat pesanan dari pihak luar.

Ingin Uji Kandungan Teh Daun Kelor

Pembuatan teh daun kelor secara tradisional dan tanpa bahan tambahan kimia membuat warga tidak khawatir untuk mengkonsumsinya. Produksinya saat ini juga masih skala rumah tangga.

Yitno Ramli mengungkapkan, pihaknya ingin melakukan uji kelayakan teh ini pada Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan memperbaiki sistem produksi sehingga bisa menjadi produk andalan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved