Selasa, 7 April 2026

Citizen Reporter

Ini Jadinya Jika Para Bapak Pentas Monolog tentang Perempuan

Hari Kartini diisi dengan pentas monolog. Empat bapak memainkan monolog tentang perempuan. Mereka punya persepsi sendiri tentang tema perempuan.

Editor: Endah Imawati

Apa jadinya kalau lelaki yang sudah mempunyai status bapak menampilkan monolog dengan tema perempuan? Bukan hanya satu, tetapi sekaligus empat monolog hingga menyerupai pasar yang ramai.

Pasar Monolog #1 merupakan acara untuk memperingati Hari Kartini. Acara itu diadakan oleh Kelompok Bermain Kangkung Berseri (KBKB) di halaman Perpustakaan Universitas Negeri Malang, Senin (23/4/2018).

Ditampilkan empat seniman kondang Kota Malang, yaitu Win Ekram, Leo Zainy, Agus Fauzi Ramadhon, dan Maryaeni. Penampilan mereka menyedot penonton dari berbagai kalangan.

Win Ekram dalam pembuka pentas menampilkan judul monolog Taman Kota. Balutan gerak tari mampu menghadirkan suguhan yang apik. Dengan objek mawar merah dan sebuah bangku panjang menjadi perantara pesan tentang kenyamanan di taman kota kini tiada lagi dapat ditemukannya dengan mudah.

“Tanpa dia, saya takkan mungkin dapat melangsungkan kelanggengan hidup. Dia adalah ideologi dalam kehidupan yang nyata,” ungkap Leo Zainy dalam monolog Botol Susu.

Keresahan dalam berumah tangga merupakan persoalan yang diungkap. Lelaki boleh sukses berkiprah di luar rumah. Akan tetapi, ketika sudah sampai di rumah sebagai seorang bapak kadang kala harus mengakui, istrilah pemegang tampuk kerumahtanggaan.

Sentilan-sentilan dalam kalimat Leo Zainy dimulai ruwetnya menghadapi kerewelan anak hingga bagaimana seorang pejabat harus takluk kepada istri ketika melakukan mutasi pegawainya hanya karena masalah arisan.

Lain lagi, permasalahan yang disajikan Agus Fauzi Ramadhon. Monolog Kapten Amerika menunjukkan perempuan yang harus tunduk kepada lelaki.

Dengan menggendong kasur, wajan di tangan kanan, dan timba di tangan kiri, Agus menghadirkan kodrat perempuan terbatas pada simbol Jawa, yaitu masak, macak, manak. Pemilihan kostum kebaya putih dan belitan kain jarik seakan mengokohkan langkah perempuan yang tersendat dalam kehidupan di luar rumah.

Senada dengan permasalahan itu, Maryaeni yang juga guru besar dari Universitas Negeri Malang, menyajikan dalam monolog Tolong! Ia menunjukkan, perempuan bukanlah tempat pelampiasan semata.

Sri Wahyudi, pembawa acara, mengungkapkan pilihan #1 merupakan rangsang yang memungkinkan untuk memancing pertunjukan selanjutnya. Dengan demikian, masyarakat teater tidak terlalu haus akan pementasan monolog yang kian jarang ditemui.

Setelah monolog usai, penonton diajak berdiskusi tentang eksistensi perempuan dalam panggung kesenian. Fatoni Rahman, dosen Universitas Brawijaya, dan Fitrah Ayu menjadi pemantik diskusi itu. Acara yang dimulai tepat pukul 19.30 ini merupakan acara yang didukung penuh KBKB, Cangkir Laras, Cafe Pustaka UM, Project Bayangan, Gatra UM, dan Lab Drama UM.

Sutriono Hariadi
Guru Bahasa Jawa SMPN 4
Kota Probolinggo

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved