Citizen Reporter
Ini Lho Cara Guru Memahami Siswa
Ubah posisi duduk siswa menjadi berkelompok. Pengelompokan itu juga memperhitungkan ranah pengetahuan sesuai dengan Taksonomi Bloom.
Menghadapi siswa, guru harus mampu menjadi sosok yang dibutuhkan. Dalam mengajar, guru harus memberikan instruksi yang dapat tervisualkan dalam otak siswa. Oleh karenanya, setiap instruksi harus tersusun jelas agar informasi mudah dipahami.
Itu yang disampaikan Mohd Ghazali bin Taib, trainer and motivator, Institute of Teacher Education, International Language Campus Malaysia di rumah singgah Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim (Maliki) Malang, Kamis (22/3/2018). Sekitar 200 mahasiswa Pascasarjana UIN Maliki mengikuti seminar internasional bertema applying and thinking in classroom activities.
Ghazali memberi contoh, guru memberi instruksi menggambar bunga mawar. Sebelum siswa mulai menggambar, pastikan informasi tentang bunga mawar sudah tervisualkan dalam otak siswa.
Hindari guru memberi instruksi tanpa mengecek pemahaman telebih dahulu, sebab mengaitkan pelajaran dengan kehidupan sehari-hari siswa dapat menjadikan pembelajaran yang bermakna.
“Guru kerap tidak mengaitkan mata pelajaran dengan kehidupan siswa, sehingga mata pelajaran yang dipelajari terkesan sia-sia dan menghabiskan usia saja. Misal rumus fisika tentang rumus gerak. Hal itu bisa dikaitkan dengan contoh-contoh sederhana, seperti gerak naik-turun anak tangga,” kata Ghazali.
Ia menambahkan, strategi pengaturan tempat duduk pada pembelajaran abad 21 berbeda dengan cara tradisional. Abad 21, siswa diatur dengan cara duduk secara berkelompok.
Pembagian kelompok disesuaikan dengan ranah pengetahuan menurut taksonomi bloom, yakni pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi. Dalam satu kelompok, siswa duduk dengan teman yang memiliki kemampuan yang beragam.
Jika pertanyaan pada tingkat pemahaman, jangan langsung dibidik pada anak yang memiliki tingkat kognitif pengetahuan. Guru bertanya sesuai dengan kemampuan tingkat kognitifnya.
Hal yang perlu dipahami, guru berupaya meningkatkan kemampuan kognitif sesuai tingkat kemampuan masing-masing siswa. Jadi, guru lebih mudah memberikan perlakuan terhadap setiap siswa. Perhatian yang diberikan guru pun dapat merata.
Ghazali menegaskan, profesi guru bukan berorientasi gaji. Guru akan bangga jika suatu saat ditepuk pundaknya oleh siswa yang sudah menunjukkan kesuksesannya.
Hal itu akan berbalik sedih saat siswa yang pernah diajarnya, bertekuk menepuk lutut guru dengan meminta belas kasih meminta bantuan kepada guru yang pernah mengajarnya.
Sebagai penutup, ia memberikan simpulan, mengajar itu ibarat menguntai tasbih. Semakin banyak siswa yang diajar, semakin panjang tasbih yang akan diuntaikan. Itulah doa-doa siswa yang akan mengalir kepada guru yang telah mangajarnya ilmu pengetahuan.
Suci Aristanti
Mahasiswa Pascasarjana UIN Maliki Malang
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/guru_20180324_220650.jpg)