Citizen Reporter
Jangan Takut Berbeda karena Itu Membuat Kaya
Hanya tahu budaya sendiri? Saatnya memahami budaya lain. Belajar dulu supaya tidak salah paham.
Pertukaran mahasiswa dari berbagai kampus eks IKIP yang sekarang sudah berganti nama lembaga membuat pertemanan menjadi istimewa. Para mahasiswa dari berbagai kampus berkumpul di Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
“Surabaya panas,” komentar itu muncul dari peserta yang ada di halaman Rektorat Unesa, Rabu (14/3/2018).
Ibu Kota Jawa Timur yang terletak di dekat laut memiliki cuaca panas. Dua minggu lalu dilakukan serah terima mahasiswa program Pertukaran Mahasiswa Tanah Air Nusantara (Permata) di Gedung Rektorat lantai 7, Lidah Wetan, Unesa.
Program Permata diselenggarakan Kemenristekdikti yang bekerja sama dengan 12 universitas eks IKIP di seluruh Indonesia.
Selain deretan acara formal, yang membuat bersemangat adalah pertemuan dengan banyak mahasiswa dari kampus lain. Pertemuan itu membuat semua senang.
Program PERMATA mempertemukan mahasiswa dari Universitas Negeri Medan (Unimed), Universitas Negeri Semarang (Unnes), Universitas Negeri Makassar (UNM), Universitas Negeri Gorontalo (UNG), dan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).
Selain itu, ada yang dari Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Universitas Negeri Padang (UNP), Universitas Negeri Manado (Unima), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), dan Universitas Negeri Jakarta (UNJ).
Stigma tentang panasnya kota Surabaya pun seketika lenyap ketika menyaksikan lingkungan yang hijau dan sedang ditata. Mahasiswa yang dikirim jauh dari luar kota dan luar pulau seperti mendapatkan keluarga baru saat bertemu dengan mahasiswa Unesa.
Sambutan Wakil Rektor 4 Unesa beserta jajarannya dan sapaan seluruh mahasiswa program Permata memberikan kesejukan. Seluruh mahasiswa bisa belajar budaya. Misalnya belajar bahasa Sunda dari teman-teman UPI, belajar bahasa dan budaya Bali dari teman-teman Undiksha, dan sebagainya.
Sebelumnya, semua menyempatkan pergi ke Tugu Pahlawan dan Museum 10 November. Itu membuat peserta semakin mengenal lebih dekat. Perbincangan hangat terjadi di sepanjang perjalanan, Sabtu (3/3/2018).
Saat sampai di lokasi, tentu saja wajib berpose untuk menunjukkan jejak. Lebih dari itu, diskusi tentang budaya di masing-masing daerah asal menjadi pengetahuan baru bagi mahasiswa lain.
Itu seperti yang dikatakan Sri Sihombing, mahasiswa pertukaran asal Unimed. Ia terkejut saat membeli nasi soto di Surabaya.
“Jika di Medan, nasi soto atau makanan apa pun disajikan secara terpisah. Berbeda dengan warung makan yang saya datangi, yang menyajikan nasi dan soto dalam satu mangkuk,” kata Sri.
Cerita lain datang dari Mutia dan Eva, mahasiswi pertukaran asal UPI Bandung yang membahas kata ‘dahar’. “Kata ‘dahar’ yang berarti makan adalah kata yang paling kasar dalam bahasa Sunda,” tutur Mutia.
Itu berbeda dengan bahasa Jawa. Kata ‘dahar’ adalah krama inggil atau bahasa yang paling halus yang hanya digunakan untuk mereka yang lebih tua atau yang dihormati.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/mahasiswa_20180315_180832.jpg)