Selasa, 12 Mei 2026

News analysis

Surabaya Kota Ramah Anak, Isa Ansori: Sering Kali Pemkot Kedodoran saat Implementasi

Sosok Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menurut saya terlalu sentral.

Tayang:
Penulis: Nuraini Faiq | Editor: Parmin
surya/nuraini faiq
Isa Asori, Sekertaris LPA Jatim. 

SURYA.co.id | SURABAYA -  Saya termasuk yang menyimak betul upaya Pemkot Surabaya mewujudkan impiannya sebagai Kota Ramah Anak. Namun sosok Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menurut saya terlalu sentral.

Dibutuhkan kemampuan mengimplementasi apa yang diimpikan Risma. Akan lebih baik jika upaya menciptakan kota ramah anak itu lahir dari bawah. 

Saya melihat dari sisi penghargaan yang diperoleh, Surabaya secara  administratif sudah ditetapkan sebagai kota layak anak. Apalagi Risma juga turun langsung. Namun ini dari sisi simbol. Bukan implementasi. 

Persoalannya adalah di tingkat implementasi kadang - kadang masih jauh dari kesan ramah anak.

Misalnya di dunia pendidikan masih banyak kekerasan seksual terhadap anak. Yang paling mengagetkan adalah terjadi di sebuah SD swasta dengan pelaku adalah gurunya. 

Ini membuktikan masih seringnya lingkungan sekolah menjadi tempat berlangsungnya kekerasan,  baik itu yang dilakukan oleh orang dewasa maupun sesama anak.

Ini menunjukkan lingkungan sekolah  kita masih belum ramah menjadi rumah bagi anak.

Tidak hanya itu, selama ini masih terjadi pengeluaran anak dari sekolah akibat anak dianggap melanggar peraturan.

Dalam pelaksanaan kota layak anak diatur mekanisme penanganan yang berpihak pada kepentingan terbaik untuk anak.

Belum lagi masih seringnya pemkot menutup perizinan sekolah. Padahal sekolah  itu bagian dari komitmen pemerintah kota melayani hak dasar hak pendidikan anak. 

Data terkahir misalkan kekerasan yang terjadi di  SD yang baru - baru ini. Bahkan muncul kekerasan  antarpelajar di sebuah SMPN di Surabaya. 

Belum lagi "penelantaran Dana Bopda" pendidikan anak anak SMA, SMK, dan MA akibat peralihan kewenangan. Bukan kemudian dibiarkan dan diperdebatkan di persoalan administrasi kewenangannya.

 Seharuanya Pemkot Surabaya berupaya mencari jalan keluar sebagai bagian dari layanan. Bukanka anaki-anak itu meski sudah SMA, SMK, dan MA mereka juga anak-anak Surabaya. Mereka mempunyai hak yang sama dengan anak-anak  lainnya. 

Fasilitas umum kita,  semacam trotoar juga sudah bagus. Tapi belum ramah karena terkesan membahayakan bagi kelompok disabilitas. 

Kini Pemkot Surabaya mengampanyekan Kota Raman Anak. Semua secara seremonial dilibatkan hingga Wali Kota Risma turun jalan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved