Sabtu, 25 April 2026

Laporan Khusus Banyuwangi

Anak Berkebutuhan Khusus: Simak Pengalaman Dewi Yull Mengasuh Dua Anaknya yang Tunarungu

Banyak wali murid, guru menitikkan air mata, ketika Dewi Yull, menyanyikan lagu Putri, dalam Festival Anak Berkebutuhan Khusus, di Banyuwangi.

Penulis: Haorrahman | Editor: Parmin
surya/haorrahman
Atraksi dalam Festival Anak Berkebutuhan Khusus di Banyuwangi. 

SURYA.co.id | BANYUWANGI - Anak Berkebutuhan Khusus merupakan anak istimewa dengan berbagai potensi yang dimilikinya. Orangtua akan mendapat hadiah yang luar biasa, apabila dengan kesabaran dan rasa cinta mendidik mereka.

Banyak orangtua, wali murid, guru menitikkan air mata, ketika Dewi Yull, menyanyikan lagu Putri, dalam Festival Anak Berkebutuhan Khusus, di Pendopo Sabha Swagatha, Banyuwangi, Selasa (27/2/2018).

Lagu ciptaan Chossy Pratama itu dibuat untuk mengenang anak pertama Dewi Yull, Giscka Agustina Putri Sahetapy, yang telah meninggal dunia. Giscka merupakan anak berkebutuhan khusus (tuna rungu) yang meninggal dunia pada usia 28 tahun.  

Dari Giscka, Dewi Yull mendapat pengalaman berharga dalam mendidik anak berkebutuhan khusus.

"Saya sangat menyadari, para orangtua dan guru telah memberikan kesabaran dalam mendidik anak kebutuhan khusus. Tapi yakinlah, Anda akan mendapat hadiah yang luar biasa dari mereka," kata artis yang dinobatkan sebagai duta disabilitas Indonesia itu.

Sambil menggunakan bahasa isyarat dan verbal, artis yang memiliki nama lengkap Raden Ayu Dwi Pudjiati itu, menceritakan pengalamannya mendidik dua dari empat anaknya yang berkebutuhan khusus.

Selain Griska, anak Dewi Yull lainnya, Panji Surya Putra Sahetapy, juga memiliki kebutuhan khusus yang sama.

"Dua anak saya tuli, maaf saya menyebutkan tuli karena anak saya lebih nyaman disebut tuli daripada tuna rungu," kata Dewi Yull.

Sejak masih berusia 4 tahun, Giscka senang mencoret-coret di kertas. Melihat kebiasaan anaknya itu, Dewi Yull lalu mendatangkan guru pelukis, karena dia melihat di situlah kegemaran anaknya.

Giscka merupakan pengalaman pertama Dewi Yull merawat anak berkebutuhan khusus. Awalnya Giscka  disekolahkan di sekolah umum dekat rumahnya.

"Saat itu saya belum punya pengalaman apa-apa. Saya sekolahkan Giscka di sekolah umum, karena waktu itu belum ada sekolah inklusi seperti saat ini, sambil saya cari tahu apa yang harus dilakukan nantinya," kata Dewi Yull.

Begitu masuk SD, Giscka diajarkan bicara melalui verbal. Hingga kelas dua sudah gelisah. Saat kelas 3 dia sudah mulai terganggu di sekolah umum, karena teman-temannya tidak mengerti apa yang dibicarakan.

"Baru setelah itu saya sekolahkan ke Sekolah Luar Biasa. Sambil terus mengembangkan potensinya," kata Dewi Yull.

Hasilnya, di usia 12 tahun dia menjadi pelukis yang bisa pameran tunggal di Ismail Marzuki, Jakarta. Menurut Dewi Yull, anak berkebutuhan khusus memiliki potensi yang beraneka ragam.

"Bagi orangtua dan guru anak berkebutuhan khusus, bersabarlah dan cintailah mereka. Anda memiliki anak istimewa yang peka perasaanya. Mereka tahu Anda sedang senang atau sedih, bahkan ketika Anda sedang menyembunyikan kesedihan," kata Dewi Yull.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved