Berita Mojokerto
Manfaatkan Limbah Kayu, Perajin Mojokerto Ekspresikan Perahu Layar Zaman Majapahit, begini Bentuknya
Seorang perajin warga Dusun Sambirejo, Desa Wringinrejo, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, membuat miniatur kapal mulai kapal kuno hingga modern.
Penulis: Rorry Nurwawati | Editor: irwan sy
SURYA.co.id | MOJOKERTO - Indonesia dikenal sebagai negara maritim dengan kepulauan terbanyak di dunia. Untuk mengenal beraneka ragam kapal yang dimiliki Indonesia, seorang warga di Dusun Sambirejo, Desa Wringinrejo, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, membuat miniatur perkapalan mulai zaman dulu hingga paling modern.
Sunali ialah satu di antara para perajin miniatur kapal di Mojokerto. Dengan keuletannya selama puluhan tahun, akhirnya kapal-kapal hasil buatannya bisa dinikmati hingga ke luar Jawa Timur. Mulai dari Makassar, Yogjakarta, Tanggerang, dan berbagai daerah lainnya.
Perahu layar milik pria yang akrab disapa Ali ini, berbeda dengan kapal buatan pada umumnya. Dengan memanfaatkan limbah kayu pabrik, ia mencoba merakit miniatur kapal hingga menjadi sebuah badan kapal yang utuh.
"Pakai limbah kayu pabrik, biasanya kalau tidak kayu mahoni, ya kayu nangka atau kayu waru," katanya saat ditemui, Minggu (18/2/2018).
Dari limbah kayu itu, oleh Ali dipoles dengan menggunakan cat kayu sebagai latar belakang tubuh kapal. Baru kemudian, ia merakit bagian demi bagian kapal.Mulai dari pagar, layar, dayung, ataun aksesoris lainnya.
"Kalau layarnya, saya pakai bahan dari lapisan kitchen set. Lalu ada benang nilon sebagai pengait talinya," jelasnya.
Dadi semua bahan dasar itu, pria 40 tahun ini dapat membuat kapal beraneka ragam. Mulai dari kapal Phinisi, kapal Dewaruci, kapal Majapahit, kapal Titanic, kapal Esmeralda, kapal VOC.
Selain itu, ada juga kapal-kapal tradisional lainnya seperti kapal ikan diberbagai daerah.
Dari semua jenis kapal itu, paling banyak dicari adalah kapal Majapahit, kapal Dewaruci dan kapal Phinisi. Namun dari tiga kapal tersebut, perahu layar Majapahit masih dipertahankan oleh Ali meski telah tergerus oleh waktu.
"Kapal Majapahit paling mahal, tapi masih kami pertahankan karena ini khas di Mojokerto," imbuh suami dari Anik Zulaikha.
Kapal Majapahit ini lanjut Ali, jauh lebih sulit dibandingkan dengan kapal lainnya. Pasalnya, jika diaplikasikan dalam ukuran paling besar yakni dengan panjang satu meter, tinggi 100 sentimeter dan lebar 60 sentimeter, tingkat kejelian harus dipertaruhkan.
Pasalnya, kapal Majapahit yang sudah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit itu memiliki banyak aksesori. Mulai dari 40 dayung di bagian sayap kanan, kiri dan belakang. Lalu memiliki tiga layar dan dua atap rumah.
"Kalau besar harus benar-benar detail, karena terlihat jelas. Kalau kecil, gak harus komplit," terang bapak dua anak ini.
Untuk kapal ukuran paling besar, Ali membandrol harga mukai dari Rp 2,5 juta. Sedangkan untuk ukuran kapal paling kecil yakni 1x25 sentimeter, ia hargai mulai dari Rp 30 ribu setiap produknya.
"Alhamdulillah, ada saja yang pesan setiap bulannya. Kalau pemesan setia ada dari Makassar untuk perahu Phinisi," ungkapnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/mojokerto-sunari-perajin-kapal_20180218_174201.jpg)