Kamis, 9 April 2026

Single Focus

Putra Rektor ITS Ingat Orang Tua kalau Prestasi Jelek

Sejumlah putra-putri tokoh Surabaya masih berstatus pelajar SMA. Sama seperti anak lainnya, mereka juga takut kalau prestasi jeblok.

Penulis: Nuraini Faiq | Editor: Eben Haezer Panca
surabaya.tribunnews.com/habibur rohman
SMA 2 Muhammadiyah yang menjadi satu diantara deretan sekolah swasta favorit di Surabaya. Beberapa siswa diantaranya adalah Anak Rektor Universitas negeri di Surabaya, Anak Rektor Universitas Islam ternama di Surabaya, Anak Pengusaha tertarikmasuk Sekolah yang memiliki banyak prestasi di berbagi bidang ini. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Muh Budi Salman Jannah, semula sulit lepas dari gadget. Saat di bangku SMP, ia suka main game. Kini, setelah tujuh bulan menempuh pendidikan di SMA Muhammadiyah 2 Surabaya, perlahan gadget bisa ia tinggalkan untuk hal yang tidak bermanfaat.

"Saya mulai bisa mengontrol. Saya lihat teman-teman di sekolah nge-game dan gadget seperlunya saja," ucap Salman, Minggu (11/2).

Putra Rektor ITS Prof Joni Hermana ini mengaku, mendapat banyak hal di sekolah tempatnya belajar.

"Awalnya saya kikuk karena kelasnya campur cowok dan cewek. Dulu waktu SMP saya tidak pernah satu kelas dengan siswa cewek. Kini sudah guyon biasa," ujar bungsu dari empat bersaudara ini.

Sifat pemalu siswa IPA ini pun mulai ditinggalkan. Lingkungan sekolah yang memungkinkan semua kalangan siswa berbaur ini, menuntut Salman melenyapkan sifat pendiamnya.

"Saya sebelumnya pemalu. Namun, akan lebih malu kalau prestasi jelek apalagi sampai remidi," ungkap Salman.

Menjadi anak pejabat, bukan berarti ia memiliki keistimewaan. Sekolah pun hanya bertemu orang tua wali murid saat penyerahan siswa ke sekolah melalui inagurasi.

Ia mengakui, dirinya pernah remidi. Hal itu menjadi pelajaran bahwa dirinya harus siap dan lebih mempersiapkan diri dengan maksimal. "Ada kok pelajaran IPA saya yang remidi," ucapnya.

Siswa ini teringat orang tuanya ketika prestasinya di bawah ekspektasi keluarga. Apalagi, banyak yang sudah tahu kalau orangtuanya pemimpin tertinggi di ITS.

Menurutnya, menjadi semacam tuntutan agar terus berprestasi, dan pantang bagi dirinya melanggar atau tidak mengukir prestasi.

Hal senada disampaikan Anggi Indira Rayhanifa. Putri GM Hotel Mercure Surabaya, Sugito, ini juga punya pengamalan remidi.

"Ya malu lah. Harus tidak boleh remidi lagi," katanya.

Sejak itu, setiap ulangan Anggi selalu mempersiapkan diri secara maksimal. Begitu juga saat ada pekerjaan rumah, ia tidak boleh sekali pun abai.

Selain Salman dan Anggi, masih ada siswa lain di SMAMDA yang juga putra pejabat. Seperti, Akmal Zidan A, putra Rektor UM Surabaya, M Alam Narayana, putra Owner Teba Expres dan Dimas Nur Mahedra, putra pengusaha kontraktor & Trading

Di Atas Rata-rata

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved