Sabtu, 11 April 2026

Single Focus

Kampus di Surabaya Masukkan Pendidikan Kewirausahaan Dalam Kurikulum

Mata kuliah kewirausahaan kini sudah masuk dalam kurikulum pendidikan Perguruan Tinggi.

Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Eben Haezer Panca
surabaya.tribunnews.com/ahmad zaimul haq
calon maba Universitas Ciputra yang dibagi 100 kelompok mengikuti kegiatan selling game rangkaian kegiatan O-Week 2017 bertema Diversity di Convention Center, Tunjungan Plaza, Surabaya, Kamis (3/8). Kegiatan tahunan bagi calon maba itu untuk melatih dan menanamkan jiwa entrepreneur (wirausaha) sejak sebelum menjalani masa kuliah. 

SURYA.co.id | SURABAYA -  Mata kuliah Kewirausahaan kini sudah masuk dalam kurikulum pendidikan, khususnya di tingkat perguruan tinggi (PT). Tujuannya, mempersiapkan mahasiswa menjadi seorang wirausaha setelah lulus kuliah nanti.

Dengan demikian, tidak hanya membekali dengan hard skills tetapi juga membentuk soft skills-nya. Mahasiswa bisa mandiri dan menciptakan lapangan pekerjaan, paling tidak untuk dirinya sendiri.
Beberapa universitas di Surabaya, seperti Universitas Ciputra (UC) atau Institut Teknologi 10 Nopember (ITS) telah menerapkan materi ini sebagai mata kuliah wajib.

Di UC, kampus yang dikenal dalam mencetak wirausaha, mata kuliah ini harus ditempuh dalam 5 semester. UC berkomitmen menggembleng mental mahasiswanya untuk memulai usaha.

Trianggoro Wiradinata, Dekan Fakultas Entrepreunership dan Humaniora UC mengungkapkan, kuliah kewirausahaan atau Entrepreuner dibagi menjadi 5 bagian, dan harus diambil mulai semester 1 dan berlanjut hingga semester 5. 

“Jadi mahasiswa punya peluang untuk benar-benar tahu peluang usaha,” ujar Trianggoro.

Ia mengungkapkan, semua mahasiswa dari berbagai jurusan pada semester 1 mendapat materi kewirausahaan untuk memngubah pemikiran mereka yang baru lulus SMA.

"Pemikiran yang ditanamkan bahwa menempuh kuliah tidak hanya berorientasi akan nilai," katanya.

Dengan 5 semester kuliah ini, harapannya, mahasiswa terbiasa dengan naik-turunnya menjalankan usaha. Jadi, saat memulai sesuatu usaha selepas kuliah, mereka tidak memulai dari nol.

"Mahasiswa sudah jatuh bangun dalam usaha semasa kuliah, dan kerugian semasa kuliah jauh lebih kecil dibanding saat berdiri sendiri," ungkapnya.

Bahkan di semester 5, lanjut Trianggoro, mereka sudah memikirkan standar global. Produknya tidak harus dipasarkan ke luar negeri, tetapi standarnya harus menyesuaikan.

“Tujuannya, saat produk ke luar negeri, mereka tidak mengalami penolakan akibat regulasi yang dibuat negara lain berbeda dengan Indonesia,” terangnya.

Pembuatan Software

Lain lagi di ITS. Menggeluti bidang teknik, bukan berarti peluang wirausaha kecil. Mahasiswa juga mendapat bekal soft skill dan harus mengambil 3 sistem kredit semester (sks) untuk mata kuliah Technopreneur. Sehingga, lulusan ITS salah satu profilnya berjiwa Technopreneur.

Muhammad Nurif, Koordinator Mata Kuliah Technopreneur menjelaskan, mahasiswa diajarkan mental berwirausaha dan mengasah kepekaan dalam berwirausaha. Harapannya, mampu membuat produk layak jual selama kuliah, bukan berarti harus dijual saat kuliah.

“Mahasiswa diminta buat prototype dan diusahakan ikut incubator bisnis. Kalau lolos akan dicarikan investor,” urai Nurif.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved