Sabtu, 25 April 2026

Berita Kediri

Pasutri Miskin Dari Kediri ini Tetap Bersyukur Meski Tinggal di Rumah Seng Berkarat

Suyadi dan Sukartiyem, pasutri miskin di Kediri tetap bersyukur meski tinggal di rumah berbahan seng dengan ukuran 3x3 meter. Kok bisa?

Penulis: Didik Mashudi | Editor: Eben Haezer Panca
surabaya.tribunnews.com/didik mashudi
Suyadi dan Sukartiyem di rumahnya Kelurahan Pesantren yang terbuat dari bahan seng bekas, Jumat (22/12/2017). 

Sudah belasan tahun Suyadi (68) dan istri sirinya Sukartiyem (54) menjadi penghuni rumah seng di belakang Pabrik Gula (PG) Pesantren Baru, Kota Kediri. Rumah ukuran 3 x 3 meter yang ditempati pasutri ini memang seluruhnya terbuat dari bahan seng bekas yang telah berkarat.

SURYA.co.id | KEDIRI - Sukartiyem tak henti - hentinya bersyukur masih diberi kesempatan tinggal di tanah magersari milik PG Pesantren.

Dia bersyukur meski rumah itu reyot dan berkarat, namun paling tidak dia dan suaminya masih punya tempat berteduh. 

Sebenarnya sudah ada beberapa tawaran dari dermawan untuk membuatkan rumah yang lebih layak huni. Namun Suyadi dan istrinya menolaknya karena khawatir dengan rumah yang bagus bakal dilarang pihak PG Pesantren tinggal di tanah magersari.

Makanya pasutri ini mengaku bersyukur dengan kondisinya saat ini meski tinggal di rumah seng yang telah berkarat dan bolong-bolong.

"Mudah-mudahan kami diizinkan tinggal di rumah ini," ungkap Sukartiyem.

Rumah yang ditempati Suyadi dan Sukartiyem ukurannya hanya 3 x 3 meter. Lantainya tanah. Di dalam hanya ada ranjang kusam dengan bantal yang telah kumal.

Di ruangan ini, sehari - hari pasutri ini memasak dengan menggunakan kayu bakar. Asap dari kayu bakar itu tercium sangat kuat jika masuk ke dalam ruangan.

Kondisi rumah Suyadi seluruhnya dari bahan seng, mulai atap, dinding dan pintunya tanpa ada jendela ventilasi. Selain itu, sengnya telah kecoklatan tanda diselimuti kerak karatan. Malahan banyak bagian yang telah bolong.

Untuk keperluan mandi, cuci dan kakus dibuat serba darurat dengan pembatas dari kain bekas. Sumber diperoleh dari sumur pompa tangan yang kondisinya juga telah berkarat.

Sukartiyem sendiri biasa menjadi buruh serabutan serta dimintai jasa pijat. Sedangkan Suyadi semula menarik becak, namun setelah usianya semakin menua kini hanya bekerja serabutan dan mencari kayu bakar.

"Kami bersyukur meski serba kekurangan, tapi cukup untuk membeli beras. Bantuan yang diterima beras miskin setiap bulan 5 kg dan bantuan asistensi lanjut usia yang dibagikan empat bulan sekali," ungkapnya.

Namun Suyadi sejauh ini belum pernah menerima bantuan penjaminan kesehatan dari pemerintah. Padahal sudah beberapa kali diusulkan oleh pihak Kelurahan Pesantren.

Karena keterbatasan biaya, pasangan yang menikah siri sejak 2001 itu belum mampu menikah resmi di Kantor KUA.

"Kami tak punya biaya untuk mengurus pernikahan. Kalau ada progam pernikahan massal kami belum pernah didaftarkan," jelasnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved