PHE WMO Konservasi Terumbu Karang di Bangkalan, Kini Hasilnya Mulai Terlihat
Penanaman sebanyak 30 unit terumbu karang beragam jenis oleh warga nelayan Desa Labuhan, Kecamatan Sepulu mulai menuai hasil.
Penulis: Ahmad Faisol | Editor: Adrianus Adhi
SURYA.co.id | BANGKALAN - Penanaman sebanyak 30 unit terumbu karang beragam jenis oleh warga nelayan Desa Labuhan, Kecamatan Sepulu mulai menuai hasil.
Upaya konservasi ekosistem bawah laut di kedalaman 3-4 meter yang dilakukan pada Maret 2017 itu menunjukkan perkembangan signifikan.
Kawasan 1 mil hingga 3 mil dari pesisir Desa Labuhan memang menjadi lokasi primadona bagi para nelayan dan pemancing ikan dari berbagai desa di kawasan pantura Bangkalan.
Beragam jenis ikan tersedia melimpah. Mulai dari kerapu merah, kakap merah, kakap hitam, cumi-cumi, tongkol, hingga ikan kembang waru sirip kuning. Kawasan tersebut seolah menjadi surga bagi para nelayan setempat maupun dari luar Bangkalan.
"Ikan-ikan di sini, mulai jarak 1 mil hingga 3 mil ke tengah laut, luar biasanya banyak. Hampir semua nelayan mencari ikan di sini," ungkap warga setempat, Sunandar kepada Surya, Minggu (17/12/2017).
Kekayaan alam bawah laut bernilai ekonomis itu mendorong sejumlah nelayan dari luar daerah berperilaku di luar ketentuan. Mereka menggunakan alat tangkap jenis jaring trawl.
"Akhirnya banyak karang menjadi mati, terumbu rusak. Sangat disayangkan. Kendati demikian, ikan masih saja melimpah," tutur pria yang didapuk sebagai Ketua Kelompok Payung Kuning Desa Labuhan.
Salah seorang tokoh desa setempat, Moh Sahril mengatakan, pembentukan perkumpulan Payung Kuning itu dilandasi rasa kekhawatiran warga Desa Labuhan terhadap kelangsungan kehidupan terumbu karang.
"Semua tahu, terumbu dan karang merupakan habitat ikan. Kami khawatir ketika kerusakan semakin parah, laut kami 'gersang'," kata Sahril.
Rutinitas warga Desa Labuhan mencari ikan dimulai pukul 04.00 hingga pukul 08.00. Setiap hari, mereka bisa mengumpulkan uang mulai dari Rp 80 ribu per hari hingga Rp 200 ribu per hari.
"Akhirnya kami berinisiatif bagaimana cara mengembalikan terumbu karang yang telah rusak?. Karena nenek moyang kami menafkahi keluarga, ya dari sana," kata Sahril.
Keresahan warga Desa Labuhan akhirnya sampai juga di telinga Pertamina Hulu Energy West Madura Offshore (PHE WMO).
Operator pengeboran migas di perairan Kecamatan Sepulu itu menggandeng Marine Biodiversity and Conservation Research Group, Laboratorium Ekologi, Departemen Biologi ITS Surabaya.
"Penanaman 30 unit terumbu karang itu awalnya sebuah percobaan. Namun hasilnya menggembirakan. Rencana ada penanaman lagi, tapi entah kapan," pungkas Moh Sahril
Sementara itu, dosen Fakultas Biologi ITS yang terlibat dalam penanaman 30 unit terumbu karang, Farid Kamal Muzaki menuturkan, timnya telah melakukan pemantaun di awal 2016 terhadap kondisi terumbu karang di perairan Desa Labuhan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/berita-ahmad-faisol-bangkalan_20171218_011652.jpg)