Ekonomi
Bank Indonesia Optimistis Kondisi Perekonomian Indonesia 2018 Kondusif
Bank Indonesia masih yakin perekonomian Indonesia masih kondusif. Ini indikator-indikatornya...
Penulis: Sri Handi Lestari | Editor: Eben Haezer Panca
SURYA.co.id | SURABAYA - Jelang akhir tahun 2017, Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Timur menggelar kegiatan Pertemuan Tahunan di Surabaya, Rabu (13/12/2017).
Dalam acara bertema Memperkuat Momentum Perekonomian Jawa Timur itu, Kepala Kantor Perwakilan BI Jawa Timur, Difi Ahmad Johansyah, menyampaikan BI akan mengoptimalkan bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas ekonomi.
"Dalam konteks kebijakan moneter, BI akan terus menempuh kebijakan moneter untuk menghadapi inflasi. menempuh kebijakan nilai tukar untuk menjaga stabilitas nilai tukar sesuai dengan fundamentalnya, dan melanjutkan upaya pendalaman pasar keuangan," jelas Difi Ahmad Johansyah, saat memberikan sambutan pada acara yang digelar di ballroom Hotel Shangri-La, Surabaya itu.
Penguatan operasi moneter harus ditempuh untuk menjaga kecukupan likuiditas, yang akan membantu terjaganya stabilitas suku bunga pasar uang. Dalam hal ini, BI memperkuat implementasi Giro Wajib Minimum (GWM) Rupiah Rata-Rata, hingga mencakup GWM Rupiah dan GWM valas baik bank konvensional maupun bank syariah.
Penyempurnaan juga akan ditempuh dengan menyesuaikan rasio dan memperpanjang masa pemenuhan GWM Rata-Rata.
Selain itu, secara regional BI Provinsi Jatim tahun 2018 dalam perannya sebagai startegic advisor bagi pemerintah daerah, siap untuk meningkatkan koordinasi dan kerjasama semakin terstruktur untuk bersama mencari solusi permasalahan ekonomi Jatim.
Terkait ekonomi Jatim, Difi menyebutkan, ekonomi global selama tahun 2017 menunjukkan momentum pemulihan dan mengindikasikan pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan perkiraan semula.
"Sejalan dengan kondisi tersebut, ekonomi domestik turut mengalami momentum pemulihan di tahun 2017. Pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2017 diperkirakan sebesar 5,1 persen dengan tingkat inflasi diperkirakan terjaga pada level rendah, di sekitar 3,0-3,5 persen," ungkap Difi.
Sementara itu, walaupun tumbuh lebih rendah dibandingkan capaian tahun 2016 (5,5 persen), ekonomi Jatim diperkirakan tumbuh di kisaran 5,0-5,4 persen pada tahun 2017. Tingkat inflasi sampai akhir tahun diperkirakan terkendali di rentang 3,8-4,0 persen dan Stabilitas Sistem Keuangan Jawa Timur dalam kondisi terjaga, dengan peningkatan kinerja kredit dan dana pihak ketiga yang cukup baik, dan risiko kredit terkendali.
Tantangan yang dihadapi perekonomian Jawa Timur terutama disebabkan oleh Konsumsi Rumah Tangga sebagai kontributor utama ekonomi Jawa Timur masih belum sekuat pola normalnya. Dari sisi sektoral, kontribusi dan daya dukung sektor pertanian terhadap perekonomian juga semakin melambat.
Jika di tahun 2011 sektor pertanian mampu tumbuh di kisaran 4 persen - 5 persen (yoy), di tahun 2017 secara kumulatif hanya tumbuh 1,65 persen. Oleh sebab itu, Difi menyampaikan bahwa sumber-sumber pertumbuhan baru perlu segera dikembangkan. Berdasarkan riset dan kajian Bank Indonesia, terdapat 3 (tiga) industri potensial kompetitif daerah yang berpotensi dikembangkan di Jatim.
"Yaitu industri pengolahan ikan dan biota laut, industri galangan kapal, dan industri pariwisata," jelas Difi.
Meskipun perekonomian masih dihadapkan pada berbagai tantangan di tahun 2018, BI optimis kondisi perekonomian Indonesia masih kondusif. Perekonomian Jatim diyakini mampu mencatat perbaikan pertumbuhan di tengah berbagai tantangan yang ada, dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi Jawa Timur pada tahun 2018 mencapai 5,2-5,6 persen.
Sementara itu, kredit dan pembiayaan diperkirakan tumbuh di kisaran 10-12 persen dengan pertumbuhan dana pihak ketiga sebesar 9-11 persen. Adapun inflasi diperkirakan masih terkendali di kisaran 3,5±1 persen, sejalan dengan sinergi berbagai pihak dalam mengendalikan inflasi Jatim.
Optimisme pertumbuhan ekonomi Jawa Timur di tahun 2018, didukung upaya Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk meningkatkan pembangunan infrastruktur yang berdampak pada peningkatan investasi, yang diyakini tetap tumbuh tinggi, didukung oleh pembangunan proyek infrastruktur, seperti jalan tol Trans Jawa maupun non Trans Jawa, serta pembangunan bandara dan pelabuhan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/bank-indonesia-optimistis-perekonomian-indonesia-2018-kondusif_20171213_210658.jpg)