Selasa, 12 Mei 2026

Berita Bangkalan Madura

Inilah Kelompok Cyber Troops Bentukan Polisi di Bangkalan Madura

Polres Bangkalan, Madura, punya tim khusus yang bertugas mengawasi masyarakat di dunia maya. Seperti inilah tim yang disebut Cyber Troops itu...

Tayang:
Penulis: Ahmad Faisol | Editor: Eben Haezer Panca
surabaya.tribunnews.com/ahmad faisol
Suasana kerja Cyber Troops Polres Bangkalan di ruang humas mapolres. Nampak Kasubbbag Polres Bangkalan AKP Bidarudin (kiri) turut memantau perkembangan dunia maya, Senin (11/12/2017 

SURYA.co.id | BANGKALAN - Pengerahan Cyber Troops atau pasukan dunia maya menjadi salah satu strategi efektif bagi Polres Bangkalan dalam mengimbangi perkembangan teknologi informasi (IT).

Langkah tersebut sebagai upaya mengimbangi serbuan informasi berkonten negatif yang memanfaatkan internet.

Dibentuk di awal 2017, Cyber Troops Polres Bangkalan beranggotakan 12 orang. Mereka terdiri dari para netizen dan anggota Polri yang berada di bawah kendali Kasubbag Humas, AKP Bidarudin.

Mereka berpatroli menyusuri setiap jengkal dunia maya (Cyberspace) untuk mencari dan meng-counter isu-isu yang merugikan polisi dan mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas).

"Bibit Cyber Troops sudah lama ada. Seiring terbentuknya humas, perkembangan dunia IT, dan semenjak polisi menjadi bagian dari pengguna media sosial. Cuma belum ada kelembagaannya," ungkap Kapolres Bangkalan AKBP Anissullah M Ridha, Senin (11/12/2017).

Menurutnya, dunia IT perlahan terus berkembang dan mulai bergeser menjadi bagian dari kebutuhan masyarakat. Bahkan, dunia maya menjadi salah satu strategi efektif untuk menggiring opini masyarakat.

Karena itulah, lanjut Anis, polisi harus hadir sebagai bayang-bayang masyarakat. Seperti halnya teori kemasyarakat dalam ilmu kepolisian, 'Police is Beyond of Civilization'.

"Masyarakat berkembang, polisi juga berkembang. Masyarakat stagnan, polisi akan stagnan. Dari aspek sosiologis, jika masyarakat cuek polisi juga akan cuek," jelasnya.

Hadirnya Cyber Troops Polres Banglalan tak hanya meng-counter isu-isu berkonten negatif semata. Tapi juga menelusuri pergerakan pelaku tindak kejahatan (Cybercrime).

Di antaranya pengungkapan kasus penghinaan terhadap Kapolri Jenderal Tito Karnavian yang dilakukan seorang warga Bangkalan pada Mei 2017 silam.

Pelaku ditangkap Tim Cyber Crime Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Jatim setelah memberikan komentar penghinaan di akun media sosial Instagram milik Divisi Humas Mabes Polri tanggal 4,5 dan 6 Mei 2017.

Anis memaparkan, pengungkapan identitas jenazah driver taksi online, Ali Gufron yang sempat misteri selama tiga hari, akhir November 2017, juga berkat keberadaan Cyber Troops, para netizen, dan media online.

"Saya disodori wajah (Ali Gufron) tapi saya tidak kenal. Kami 'blank' selama tiga hari. Saya langsung perintahkan kasubbag humas untuk viralkan wajahnya. Itu salah satu manfaat yang kami galang dari Cyber Troops," paparnya.

Ia menambahkan, keberadaan Cyber Troops ke depan bisa lebih besar seiring berkembangnya dunia IT. Penanganan isu ataupun kasus-kasus cybercrime menurutnya, harus ditangani divisi cyber atau fungsi khusus.

"Harus ada peran tersendiri yang conern pada permasalahan dunia maya,. Kalau perlu di jajaran polres ada divisi cyber, ada satuan atau unit cyber," pungkasnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved