Citizen Reporter
Menghirup Pelajaran Hidup dari Desa Sarwana Banten
ketika keterbatasan dan kekurangan bukan menjadi sandungan, maka hikmah dan kebersyukuran sudah sepatutnya dipanjatkan ...
Reportase Sandi Iswahyudi
Blogger dan Digital Marketing
JALANAN yang tidak rata membuat kami yang berada di truk bergoyang-goyang, bahkan beberapa kali terguncang. Diimbuh penerangan jalan yang jauh dari memadai membuat malam terasa jauh lebih kelam.
Jarak kampung dengan kota yang relatif jauh, tak ada banyak pilihan laiknya di kota. Mulai dari sekolah hingga mandi dan cuci masih mengandalkan aliran sungai yang bersumber dari mata air. Pun fasilitas kesehatan kurang memadai. Puskesmas menjadi pilihan utama harus dijangkau sejauh 1 Km.
Itulah gambaran sekilas Kampung Leles, Desa Sawarna, Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Banten. Saya tak sanggup membayangkan, bagaimana hidup di kondisi semacam ini. Tak heran, saat kami, 13 orang dari beragam profesi, latar belakang, dan daerah asal, bertandang ke Banten dalam Rona Nusantara.
Banyak sekali pelajaran hidup yang kami reguk saat Sharing and Traveling, selama tiga hari (Jumat-Ahad, 24-26/11/2017) di Desa Sarwana.
Nur Qalbiyanti, staf HRD hotel di Jakarta nyeletuk, “betapa saya harus bersyukur dengan apa yang telah Allah SWT berikan kepada saya. Syukur atas nikmat yang saya dapatkan, baik itu secara materi maupun rohani, fisik maupun mental.”
Aksi terbagi dua sesi. Sesi pertama sharing, kami melakukan bakti pendidikan dengan memberikan kelas motivasi kepada murid kelas 1-6 SDN 02 Sawarna, dilanjutkan dengan outbound Nusantara dan membagi bingkisan RZ.
Di sesi kelas motivasi, sejatinya, bukan kami yang mengajari mereka. Namun, kami yang belajar dari mereka, bagaimana mengemas pesan agar mudah mereka pahami.
Saya pribadi merasakan kesulitan ini, ternyata tak mudah menyampaikan pesan ke mereka.
Sedari siang hingga petang, berlanjut dengan memperindah pemandian umum, masjid, penyuluhan kesehatan, dan pengobatan gratis bagi warga sekitar.
Malam harinya, bioskop desa menjadi hiburan. Uniknya, jika Rona Nusantara sebelumnya tidak ada penampilan dari warga. Kali ini, warga memberikan persembahan istimewa, suguhan pencak silat dari anak-anak muda.
Dari sini, saya dapatkan pelajaran, ternyata masih banyak generasi muda yang mau melestarikan budaya Indonesia.
Di hari kedua, kami menikmati alam ke Goa Lalay dan Pantai Tanjung Layar.
Rona Nusantara yang diprakarsai Rumah Zakat ini merupakan angkatan ketujuh. Rencananya, setiap bulan kegiatan serupa akan digelar di desa-desa terpencil di Indonesia.
Sharing itu kewajiban. Ia bagaikan napas, tidak bisa ditinggal sama sekali, dibutuhkan selalu, kapan saja dan di mana saja. Sebab hak tubuh adalah beribadah kepadaNya.
Sedangkan traveling, adalah cara untuk mengenal diri, memperoleh pengetahuan, hikmah, serta teman baru. Sharing dan traveling tak bisa ditinggalkan, ia sebaiknya seimbang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/rona-nusantara_20171129_204728.jpg)