Sambang Australia
Di Australia, Mahasiswa Bisa Dapat Pinjaman Uang dan Makan Murah
Australia menjadi salah satu tempat pilihan bagi mahasiswa Indonesia melanjutkan studi. Banyak hal yang menjadi alasannya. Apa saja??
Penulis: Eben Haezer Panca | Editor: Eben Haezer Panca
Bagi orang Indonesia, Australia bukan sekadar tempat yang cocok untuk berwisata. Bagi sebagian orang lainnya, negeri koala ini juga menjadi salah satu pilihan untuk menempuh studi lanjut. Cerita sebagian mahasiswa Indonesia di sana ini, bisa jadi adalah alasan untuk itu.
SURYA.co.id | PERTH – Udara di Perth, Australia Barat, Selasa (24/10/2017) petang terasa dingin. Namun, angin dingin yang berembus sore itu tak menyurutkan aktivitas publik. Para pejalan kaki yang tampaknya baru selesai bekerja, lalu lalang meramaikan pedestrian yang cukup lapang dan nyaman.
Keramaian jelang jam makan malam itu tidak cuma tampak di jalanan. Di Long Chim Restaurant, sebuah rumah makan ‘bawah tanah’ di bangunan State Buildings di kawasan Barrack Street, Perth, para tamu sudah bersiap menikmati santap malam bersama koleganya.
Di salah satu meja panjang yang disediakan untuk 10 orang, lima anak muda dari Indonesia sudah berkumpul. Mereka adalah anggota Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Western Australia yang sedang menempuh studi di sejumlah perguruan tinggi di Perth.
Mereka adalah Aldwin Tjiptarahardja, Farisa Andini, Alvin Aditya, Giovanni Surya Hartono, dan Erlita Rusli. Sore itu, kepada Surya dan rombongan International Media Visit (IMV) Surabaya 2017, kelimanya antusias bercerita tentang pengalaman mereka menempuh studi di Australia.
“Saya sih betah di sini, tempatnya nyaman,” kata Aldwin, Arek Suroboyo yang baru setahu belakangan mengambil program master bidang Marketing di Curtin University, Perth.
“Tidak terlalu stress,” tambahnya.
Bagi Aldwin yang mendapat gelar sarjana dari Murdoch University, Singapura, Perth menjadi pilihannya melanjutkan studi magister karena jarak yang tidak terlalu jauh. Dari Bali, kota itu bisa dijangkau dengan lama penerbangan sekitar 3 jam.
“Selain kualitas pendidikannya yang bagus, jarak Perth dengan Indonesia tidak terlalu jauh,” ujarnya.
Bagi Aldwin dkk, pendidikan di Australia menawarkan banyak hal yang mungkin sulit ditemui di Indonesia. Setidaknya, hal itu dituturkan oleh Gio, panggilan akrab Giovanni Surya Hartono yang sejak S1 sudah menempuh studi di Australia.
“Di sini kami tidak dijejali dengan pelajaran-pelajaran yang tidak sesuai dengan minat dan bakat kami. Jadi sejak awal memang sudah diarahkan agar materi yang diperoleh, sesuai dengan spesialisasi,” kata Gio yang menempuh program studi magister engineering di Curtin University.
Banyak Support
Kesan serupa juga dikisahkan oleh sejumlah mahasiswa Indonesia yang menempuh studi di Griffith University, Brisbane. Anak-anak muda yang tergabung dalam Isagu (Indonesia Student Association Griffith University) itu juga mengaku mendapat banyak pengalaman serta kemudahan ketika menempuh studi di Australia.
“Sistem belajar di sini (Griffith University) bagus. Sudah didukung kemajuan teknologi. Selesai perkuliahan, rekaman materi kuliah pasti akan langsung dishare lewat sistem informasi yang disediakan kampus. Jadi, tingkat kehadiran mahasiswa di kelas tidak jadi pertimbangan,” kata Kevin Klaus Liemantara, mahasiswa asal Surabaya yang menempuh jurusan engineering di Griffith University.
“Makanya kami tidak heran kalau dalam perkuliahan biasa yang datang cuma 10 orang, tetapi waktu diskusi online, pesertanya bisa sampai 30. Jadi memang banyak yang memanfaatkan fasilitas kuliah online dari jarak jauh,” sambungnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/mahasiswa-indonesia-di-griffith-university_20171101_194419.jpg)